Cerpen Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (07 November 2025)
“Jeng! Mau kopi?”
“Tidak. Aku tidak suka ngopi. Aku lihat kamu juga
tidak bawa kopi. Kenapa kamu menawarkan kopi?”
“Entahlah. Aku juga tidak suka kopi. Kopi
seringkali membuatku sakit perut. Aku hanya mau memulai pembicaraan?”
“Apa yang membawamu ke sini?”
“Di sini suasananya tenang, menenangkan. Tentram,
menentramkan. Aku nyaman di sini. Aku sangat menyukai dan mengagumi alam. Alam
mampu menghadirkan dirinya apa adanya. Alam begitu jujur. Itulah sebabnya alam
mampu menghadirkan ketentraman dan ketenangan. Karena itu aku ada di sini.”
“Lebih dari itu? Kenapa kamu membutuhkan ketenangan
dan ketentraman?”
Ternyata perempuan di sampingku belum puas dengan
penjelasanku. Dia mengejarku dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia tahu kalau aku
belum menyampaikan inti persoalan.
“Aku
memikirkan perempuanku,” Jelasku. “Jeng sendiri kenapa ada di sini?”
“Seperti yang kamu katakan. Alam mampu menghadirkan
ketenangan dan ketentraman. Tapi alasan kebutuhanku tidak sama denganmu. Aku
butuh inspirasi dari alam untuk novelku.”
“Kamu seorang penulis?”
“Entahlah. Aku hanya suka menulis. Buatku menulis
adalah kebebasan. Aku bisa berbuat apa saja di dalam tulisanku. Aku bisa
mengungkapkan kebahagiaan dan mengumbarkan kemarahan.”
“Benar. Tepat sekali. Apalagi hari ini sangat sulit
mencari orang yang mau menerima luapan kebahagian dan kemarahan kita. Siapapun
dia, entah istri, suami, saudara, keluarga, pacar apalagi orang lain. Mereka
sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya menulis yang mampu menerima luapan
kebahagiaan dan kemarahan kita. Hanya alam pula yang selalu siap menerima semua
itu. Ya menulis dan alam.”
Angin berdesir menyapu wajahku. Daun-daun di
hadapanku berlarian saling berkejaran. Cuaca tidak dingin, juga tidak panas.
Sementara awan-awan bermain-main di atas sana. Tanpaknya mereka mencari bentuk
terindah untuk dunia, untuk menyandingi keindahan alam. Itu menambah keindahan alam ini.
Perempuan di sampingku itu sibuk dengan kameranya. Dia terlihat begitu terpesona dengan alam ini.
Dia mengabadikan apa yang menurutnya indah. Sesekali dia melihat hasil
potretannya. Kadang dia berdecak kagum, kadang juga mendesis kecewa. “Aku salah
mengambil Angel,” Teriaknya padaku. Kemudian dia kembali lagi memotret.
Pemandangan alam di sini memang begitu indah. Di
sisi kanan dan kiri ada batu menjulang tinggi. Di situ tumbuh pohon-pohon yang
menyejukkan mata saat memandang. Di hadapanku, terhampar jauh rerimbunan yang
tampak hijau sekali. Ia hanya berbatas langit di ufuk barat. Gerakan awanpun
bebas kami nikmati. Kadang ia membentuk kuda, wajah orang, rumah dan berbagai
bentuk lainnya. Di sini tidak ramai, juga tidak terlalu sunyi, itu juga yang
membuatku betah duduk-duduk di sini.
“Kamu tahu apa yang istimewa dari perempuan?”
“Bukannya kamu suka alam? Apa mungkin kamu juga
menemukan keistimewaan pada diri perempuan?”
“Ya kamu benar, aku suka alam. Tapi kamu salah
kalau mengira aku buta pada keistimewaan yang ada pada diri perempuan. Kadang
perempuan itu mampu mewakili alam, bahkan lebih, tapi kadang perempuan begitu
mengerikan. Menjadi maut kehidupan.”
“Aku perempuan. Aku merrasa semua yang ada pada
diriku istimewa, sekalipun kamu menemukan sisi mengerikan dan maut.”
“Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung atau
menghina kamu sebagai perempuan.”
“Tidak masalah. Aku sudah sering mendengar
kata-kata sejenis itu. Tetapi kamu tidak dapat mengingkari bahwa kamu tetap dan
selalu butuh perempuan.”
Aku terdiam. Jawabannya pelan tapi langsung
mengena. Serupa tombak. Kata-kata itu tepat di tengah-tangah sasaran tombak.
Aku menarik napas panjang. Menciptakan momen yang tepat untuk melanjutkan
permbicaraan kami.
“Senyumnya. Itulah yang istimewa dari perempuan. Setidaknya buat diriku.”
Perempuan itu terdiam. Menatap jauh ke arah langit.
Entah apa yang dipikirkan, tapi tampak jelas di wajahnya dia sedang memikirkan
sesuatu. Barangkali apa yang baru saja aku katakan itu.
“Ini bukan soal syahwat, birahi dan kebutuhan
biologis. Lebih dari itu semua. Aku harap kamu tidak menyederhanakan
keistimewaan itu,” lanjutku. Aku mencoba memecahkan kebekuan di antara kami.
“Lalu apa kalau bukan syahwat dan birahi? Bukankan
kita sudah sering mendengar istilah yang sering disematkan pada kamu bahwa
ketika hubungan antara perempuan dan lelaki terjadi selalu memuat syahwat dan
birahi.”
“Tidak. Kamu terlalu menyederhanakan keistimewaan
itu. Seandainya saja perempuan menyadari bahwa Senyum-nya adalah istimewa buat lelakinya, perempuan tak
perlu khawatir dan takut mengarungi hidup ini. Lelakinya akan menjadi malaikat
pelindungnya. Apa kamu pernah memberikannya kepada lelakimu?”
“Ya. Aku pernah memberikannya.”
“Memberikan atau diminta untuk memberikan atau
dipaksa memberikan?”
“Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti dia telah
mendapatkannya.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak melihat apa-apa dan aku
tidak merasakan apa-apa. Semua biasa saja.”
“Berarti kamu belum berbuat apa-apa. Memikirkan
lelakimu dan tindakanmu sendiri.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Harusnya kamu tahu dan merasakan arti dari
tindakanmu itu dan bagaimana seharusnya kamu melakukannya. Dan yang paling
penting adalah kamu harus tahu dampaknya.”
“Tapi aku memang tidak tahu dan tidak merasakan
apa-apa.”
“Ya aku paham, tapi itu yang menunjukkan bahwa kamu
sama sekali belum memikirkan tentang dirimu dan dirinya. Kamu hanya berjalan
sesukamu, tanpa tahu alasan dan tujuanmu. Itu sama artinya kamu belum berbuat
apa-apa untuk dirimu dan lelakimu.”
Perempuan itu menghela napas panjang. Aku pun tidak tahu kenapa pembicaraan
kita sampai sejauh itu. Tetapi dia tetap tenang. sepertinya dia sudah terbiasa
dengan perbincangan seperti ini. Tidak sedikitpun menunjukkan rasa kesal.
“Maaf kalau pembicaraanku tidak sopan. Ini
seharusnya masalah privasi. Tidak pantas jadi pembahasan.”
“Tidak. Tidak apa-apa. Sesuatu yang privasi juga
harus kita pelajari bersama. Kita tetap harus belajar kepada orang lain karena
pada dasarnya kita tidak pernah netral melihat privasi kita, dan itu adalah
egois buat aku dan egoisme adalah kutukan.”
“Kadang kita memang terlalu berlebihan menempatkan
ruang privasi. Padahal itu sesuatu yang selalu kita lakukan dan paling dekat
dengan diri kita. Bagaimana kita dapat memperlakukannya dengan baik kalau kita
tidak memahaminya, dan untuk memahaminya kita tetap butuh orang lain.”
“Apa kamu sering memikirkan apa yang kamu lakukan
terhadap perempuanmu?”
“Tentu saja. Aku sangat suka memikirkannya, bahkan
aku sangat senang mendiskusikannya.”
“Bukankah seharusnya kamu peka terhadap
perempuanmu?”
“Kepekaan seringkali tidak objektif. Kepekaan tetap
belum mampu membimbing kita terhadap sikap yang tepat terhadap pasangan kita.
Sebab itu kita tetap harus membicarakan segalanya.”
“Bagaimana kalau sesuatu yang kamu anggap istimewa
itu tidak istimewa bagi perempuanmu?”
“Justru itu yang ingin aku pecahkan. Cinta itu
sederhana, tapi rumit praktiknya.
Cinta itu adalah kometmen untuk saling menjaga, memperhatikan dan kometmen
untuk berkompromi. Tanpa itu, kehidupan pasangan tidak akan berjalan harmoni.
Seperti benang gitar. Sekalipun berbeda
panjang dan besarnya, tapi saat mereka kometmen untuk bersama dan berkompromi,
mereka mampu menghasilkan bunyi yang indah. Begitu juga dengan kita dan
pasangan kita.”
“Kenapa kamu menganggap senyum adalah sesuatu yang istimewa pada diri perempuan?”
Aku
beringsut membetulkan tempat dudukku. Kemudian aku menatap lurus ke depan. Ada
segerombolan burung terbang saling berkejaran. Pepohonan juga bergerak-gerak
karena terpaan angin. Indah sekali. Benakku berpikir keras bangaimana aku harus
menjelaskan sesuatu yang istimewa itu. Apakah aku dapat menjelaskannya dengan
bahasa yang tepat? Apakah perempuan itu akan dapat menangkap maksudku? Dan yang
terpenting apakah dia akan percaya dengan apa yang akan aku katakan?
“Saat aku gelasah, senyum perempuanku mampu menenangkanku; saat rasa pesimis
menghantuiku, senyum perempuanku
mampu mengantikannya dengan optimisme; saat aku tidak punya semangat mengarungi
kehidupan, senyum perempuanku
mampu menyemangatiku; saat keraguan menghampiriku, senyum perempuanku yang mampu meyakinkanku.”
“Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan?”
“Aku belum menemukan alasan untuk tidak yakin.”
“Bagaimana kamu sampai seyakin itu?”
“Karena aku tahu hanya aku yang benar-benar
memikirkan dan merasakan itu. Mungkin perempuanku tidak merasakannya.”
“Kalau yang kamu katakan itu benar, aku sebagai
perempuan, bukannya aku tidak mau melakukan itu. Tapi aku belum mengerti
bagaimana aku harus melakukannya. Bagaimana caranya agar senyum itu menjadi sesuatu yang istimewa buat lelakiku.
Sesuatu yang mampu menciptkan optimisme, semangat, dan keyakinan?”
“Kamu berpikir terlalu rumit. Mungkin kebanyakan
perempuan juga seperti kamu. Jelimet. Kamu cukup memberinya saat dia meminta.
Tidak perlu banyak tanya apalagi berdebat panjang lebar. Berikan saja. Karena
lelaki tidak akan meminta kalau tidak butuh. Kemudian kamu rasakan desiran napasnya, perhatikan tatapannya, wajahnya. Kamu akan
menemukan sesuatu yang tidak pernah kamu temukan. Kamu akan sulit percaya bahwa
kamu mengalami sesuatu yang sulit kamu ungkapkan. Itu serupa kebahagian dan
kesedihan menyatu. Tanpa batas. Tanpa arah. Hanya itu yang akan dapat kamu
ungkapkan.”
“Benarkah yang kamu katakan itu?”
“Buktikan saja. Kamu akan dapatkan jawabannya
sendiri. Apa kamu memang belum pernah memberikannya dengan cara seperti itu?”
“Belum.”
“Kamu harus mencobanya.”
“Kamu tahu senyum seperti apa yang sangat istimewa buat lelaki?”
Perempuan itu tidak menjawab sedikitpun.
Wajahnya menunduk tenang. Aku terlalu
lama dibiarkan menunggu. Suasana menjadi hening. Hanya desiran angin yang
terdengar. Kupecahkan keheningan itu.
“Maaf. Boleh aku tanya sesuatu? Mungkin sangat
pribadi.”
“Apa?”
“Bagaimana hubunganmu dengan lelakimu?”
“Biasa saja.”
“Tidak adakah sesuatu yang istimewa.”
Lagi-lagi perempuan itu terdiam. Dia tampak
merenung dan memikirkan sesuatu.
Barangkali pertanyaanku itu terlalu cepat aku lontarkan. “Biarlah. Aku
ingin cepat-cepat sampai ke inti perbingan ini.”
“Kamu tahu, hubungan itu tidak dapat kita jalani
biasa-biasa saja. Kalau itu terjadi, itu berarti kita belum melakukan apa-apa terhadap pasangan
dan masa depan hubungan kita. Kita belum sungguh-sungguh melakukan sesuatu
untuk hubungan dan masa depan kita.”
Keadaan mejadi begitu hening dan sunyi. Ditambah
angin tidak bertiup lagi. Perempuan itu termenung, sedangkan aku masih tetap
menatap lurus ke depan. Memperhatikan burung-burung dan awan-awan yang terus
mengubah dirinya, dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
“Bagaimana hubunganmu dengan perempuanmu?”
Tak kusangka. Pertanyaan itu juga hadir untukku.
Aku sudah punya jawaban tapi bagaimana aku harus menyampaikannya.
“Kadang-kadang.”
“Kadang-kadang atau sering atau jarang?”
Perempuan itu mendesakku. Tampaknya, buat dia
jawabanku kabur.
“Entahlah. Aku masih optimis akan dapat merasakan
sesuatu yang lebih dari yang aku rasakan selama ini.”
“Kenapa begitu?”
“Aku percaya kepadanya.”
“Apa yang membuatmu begitu percaya?”
“Aku percaya pada perubahan, karena itu aku percaya
dia pasti akan berubah. Seperti awan-awan itu. Kita terus mencari bentuk paling
indah dari sekian bentuk.”
“Semoga kamu beruntung. Kamu belum melanjutkan
penjelasanmu tentang senyum seperti
apa yang paling istimewa. Apa kamu masih berkenan untuk menjelaskannya?”
“Aku harus kembali ke vila. Aku hanya bisa menjelaskan dengan sederhana. Kamu sendiri yang harus
memperluas maksud dan tujuannya.”
“Tak mengapa.”
“Senyum yang
sangat istimewa adalah senyum yang
lahir dari kepekaan si perempuan sendiri, lahir dari pengertian dan
kepeduliannya. Tanpa harus diminta, apalagi harus dipaksa untuk memberikannya dan itu bukan senyum
perempuan biasa.”
Ruang Tamu, 06 November
2025



0 Komentar