Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (29 November 2025)
Beberapa hari ini,
banyak ucapan selamat berseliweran di status WhatsApp saya. Karena
begitu banyaknya, saya tak tahan juga untuk tidak melihat. Saya terkesan dan
haru saat tahu bahwa ucapan-ucapan selamat itu diberikan kepada beberapa kawan
alumni Nurul Jadid yang baru lulus sebagai sarjana strata satu (S-1).
Mengapa saya sangat
terkesan dan haru? Sebab, dua orang di antara mereka, saya kenal baik dan saya
tahu kisah perjuangan dan kegigihan mereka dalam proses menempuh dan
menyelesaikan pendidikan sejak SMA hingga sekarang lulus sebagai sarjana. Saya
selalu mengikuti perjalanan hidup mereka meski dari jauh. Mereka adalah Eva
Yuliana dan Misdawi.
Bagi sebagian orang,
pendidikan dianggap sebagai barang sampingan karena mudah untuk didapatkan,
terutama bagi mereka yang terlahir dari rahim keluarga yang mampu secara
ekonomi dan cukup secara pendidikan. Namun, bagi mereka berdua, pendidikan
adalah barang mewah, bukan sesuatu yang didapaT hanya dengan membalikkan
telapak tangan, tapi mereka harus berjuang melawan keterbatasan ekonomi dan minimnya
dukungan, bahkan dari orang terdekat.
Apakah mereka
menyerah terhadap keterbatasan itu? Meratapinya? Menyalahkan keadaan?
Jawabannya, tidak dan itu yang membuat mereka inspiratif. Mereka berdua mampu
menunjukkan bahwa batas-batas realitas ekonomi yang menemboki langkah mereka
bukanlah vonis mati bagi mereka untuk mencapai impian. Mereka mampu menembus
tembok pembatas itu. Bagi saya, setidaknya buat saya, dua orang ini kisahnya
layak diceritakan kepada mereka yang merasa insecure dengan keterbatasan dan
kepada mereka yang ingin bertarung menembus batas-batas realitas.
Misdawi: Semangatnya Tak Pernah Padam
Saya mengenal
Misdawi sejak SMA. Mulanya, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa pada
dirinya. Dia tampak normal seperti anak-anak yang lain, datang ke sekolah,
mengikuti pelajaran, dan berpartisipasI dalam kegiatan-kegiatan lainnya.
Namun, ketika dia
duduk di kelas dua, saya mendapatinya berbeda dengan yang lain. Dia tidak
seperti anak-anak kebanyakan. Saat itu ada kejadian yang menjadi titik tolak
rasa kagum dan penasaran saya. Saya tidak mungkin lupa atau melupakan kejadian
itu, bahkan saya sering menceritakan ini kepada adik-adik kelasnya. Dan, saya
senang menceritakannya karena itu merupakan nilai atau value yang langka di
antara anak-anak yang lain.
Hari itu, dia duduk
di bangku paling barat. Nomor dua dari depan. Ketika kegiatan belajar mengajar
hampir selesai, dia meminta izin untuk bicara. Saya mengizinkan. Saya berpikir,
dia akan menyampaikan sesuatu tentang pelajaran, tapi saya keliru. Dia meminta
izin untuk tidak masuk sekolah. Kedengarannya sangat biasa, tidak ada yang
istimewa bagi anak SMA seumuran dia.
Namun, saat saya
tahu alasannya dan dia menjelaskan dengan tenang, saya tidak bisa berkata
apa-apa. Dia meminta izin tidak masuk ke sekolah beberapa hari karena hendak
bekerja sebagai kuli bangunan bersama pamannya. Dia harus membantu meringankan
beban ekonomi keluarganya dan juga untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya.
Mendengar
penuturannya, saya diam sejenak. Bayangan di benak saya silih berganti. Saya
tak bisa membayangkan terlalu lama dan jauh. Saya menyadari, bahwa saat
siswa-siswi yang lain hanya disibukkan dengan belajar dan mengikuti kegiatan
sekolah lainnya, sementara itu Misdawi juga harus bekerja untuk memenuhi
kebutuhan ekonominya. Dia harus bekerja agar beban ekonomi keluarganya
berkurang dan ada uang saku ke sekolah.
Saya tak punya
alasan untuk tidak mengizinkan dia bekerja dan mengharuskannya masuk ke sekolah.
Seketika itu juga saya memberi izin. Bahkan, apabila di lain waktu dia harus
izin lagi karena harus bekerja maka cukup izin kepada saya lewat telepon. Meski
begitu, saya katakan, jangan lupa untuk belajar.
Kejadian lain yang
tidak kalah mengesankan bagi saya, saat saya hendak masuk ke kelas, saya
mendapati beberapa siswa berkumpul di satu titik. Saperti biasa, saya segera
mengonfirmasi apa yang sedang terjadi, lalu bertanya. Seorang anak menjelaskan
bahwa Misdawi datang ke sekolah sembari membawa dagangan berupa gorengan untuk
dijual kepada anak-anak. Tanpa saya tanya, Misdawi mengiyakan dan menjelaskan. Setelah
itu, saya tidak berkata apa-apa. Saya hanya meminta untuk dilanjutkan setelah
kegiatan belajar selesai.
Kejadian-kejadian
itu cukup memupuk pertanyaan dan rasa kagum dalam diri saya. Misdawi mampu
menanggalkan ego gengsinya di saat anak yang lain biasanya sangat tidak percaya
diri bila harus melakukan hal yang sama. Ketika saya tanya, alasannya tidak
berbeda dengan alasan saat dia harus bekerja: dia butuh pendapatan tambahan
untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan pendidikannya.
Setelah itu, saya menemui
beberapa guru di sekolah. Saya mengumpulkan informasi tentang Misdawi, baik
tentang dia di sekolah maupun tentang keluarganya. Saya pun tahu bagaimana
kondisinya dan kenapa dia harus melakukan semua itu. Kesimpulan saya, itu bukan
sesuatu yang mudah, bahkan kalau saya ada di posisinya.
Tapi, sesuatu yang lebih
menarik darinya, di sekolah dia menjabat sebagai ketua kelas. Bahkan, dia anak
yang aktif pada kegiatan ekstrakurikuler. Dia juga terpilih sebagai ketua OSIS.
Bayangkan, di tengah kesibukan bekerja melawan keterbatasan ekonomi, dia masih
bisa mengambil peran cukup banyak di sekolah dan itu berjalan dengan baik.
Setelah lulus SMA,
saya berpikir bahwa dia akan fokus bekerja. Dia tidak akan melanjutkan
pendidikannya hingga ke jenjang sarjana. Tapi saya keliru. Semangatnya tidak
pernah padam. Di tengah keterbatasan ekonominya, dia tetap mendaftar masuk ke
perguruan tinggi hingga lulus dan diwisuda beberapa hari kemarin.
Dia kuliah juga
sambil bekerja sebagai kuli. Bahkan, untuk membayar biaya wisuda, dia merantau ke
luar Madura sebagai penjaga toko. Apakah dia hanya kuliah dan kerja? Tidak. Dia
aktif di beberapa organisasi kampus dan luar kampus, bahkan beberapa kali diuandang
ke beberapa kegiatan sebagai pemateri. Dialah Misdawi, gigih, bertanggungjawab
pada dirinya sendiri, dan semangatnya tak pernah padam.
Eva Yuliana: Berhenti Sejenak Bukan Berarti
Kalah
Saya tidak terlalu
dekat dengan Eva Yuliana ini. Tapi saya tahu beberapa detail perjalanan
pendidikannya hingga sekarang dia berhasil lulus sarjana strata satu (S-1).
Setidaknya, saya mengenal dia bahwa dia perempuan yang sangat rajin, pendiam,
dan cukup berprestasi di sekolah. Dia alumni SMA Nurul Jadid tahun 2020.
Ketika lulus SMA, beberapa
temannya dapat lansung melanjutkan kuliah. Namun, perjalanan Eva tidak semulus
itu. Langkahnya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana tersendat
oleh batas ekonomi dan restu orang tuanya. Dia tak dapat berbuat banyak. Apalagi,
saat itu dia belum menghasilkan uang sendiri untuk membiayai pendidikan yang
diimpikannya.
Apakah dia diam dan
menangis di pojok kamarnya? Lalu meratap sepanjang hari melihat teman-temannya
bergerak jauh mewujudkan impiannya? Tidak. Dia bukan tipe perempuan seperti
itu. Dia tidak diam dan tidak juga meratap menangisi nasibnya, apalagi mengutuk
keadaan dan orang tuanya yang tidak merestui.
Eva beranjak dari
nasibnya. Dia menantang takdirnya. Dia memutuskan bekerja untuk mengumpulkan
uang sebagai syarat kuliah. Dia tidak mau merepotkan dan menjadi beban bagi
keluarganya untuk mewujudkan impian yang sudah ditatanya. Dia berharap, apabila
dia sudah punya uang sendiri maka dia akan direstui untuk kuliah.
Setelah satu tahun
bekerja dan berhasil mengumpulkan uang sebagai modal kuliah, dia meminta restu
kembali kepada orang tuanya. Namun, lagi-lagi orang tuanya tetap tidak
merestui. Eva tetap tidak dizinkan untuk kuliah.
Lalu, apakah dia
kecewa dan hancur? Tentu saja, tapi kekecewaan itu tak mampu meruntuhkan tekad
dan semangatnya. Dia nekat tetap mendaftar kuliah ke salah satu kampus di Bangkalan
meski tanpa restu dan dukungan orang tuanya. Benar saja, dia diterima, bahkan
mendapatkan beasiswa penuh beserta biaya hidup. Saat itu ada kebahagian yang
tertampung di dadanya. Dia tidak menyangka bahwa dia mampu menembus kampus
impiannya setelah sempat tertunda.
Dia segera menemui
orang tuanya. Dia bermaksud mengabarkan kabar baik itu, bahwa dia diterima di
salah satu kampus impiannya, tanpa biaya serupiah pun, bahkan mendapat tambahan
biaya hidup. Ketika kabar baik itu disampaikan kepada orang tuanya, Eva Yuliana
dipaksa menekuk harapan dan membuang impiannya. Orang tuanya tetap tidak
memberikan restu untuk kuliah.
Hari itu menjadi
hari yang sangat berat bagi Eva. Apa yang telah diperjuangkan dan sudah ada di genggamannya
harus dilepaskan begitu saja. Padahal, untuk sampai di tahap itu tidaklah
mudah. Banyak orang yang memimpikan itu, tapi tidak ditakdirkan. Sedangkan
dirinya yang sudah berhasil menggenggamnya, tapi dilarang menikmatinya.
Namun, Tuhan
mengasihinya. Orang tuanya mendekatinya. Apabila sebelumnya dia tidak diizinkan
untuk kuliah sama sekali, sekarang dia dizinkan kuliah dengan syarat kuliah di
daerahnya sendiri, tidak boleh ke luar daerah. Orang tuanya akan mendukung
penuh, termasuk kebutuhannya dalam menempuh pendidikan sarjananya hingga lulus.
Eva bangun dan
menyeka air matanya. Dia sadar, bahwa kesempatan jarang datang dua kali. Apa
yang menjadi keputusan orang tuanya adalah kesempatan baginya. Maka, tidak ada
alasan untuk menyia-nyiakan. Dia mengambil kesempatan itu, meski mulanya tidak
dengan sepenuh hati. Dia kuliah di salah satu kampus di Sumenep meski jurusan
yang dipilihnya bukanlah jurusan impiannya. Hingga akhirnya, dia pun lulus
sebagai sarjana.
Eva Yuliana memang
harus berhenti sejenak. Dia harus bekerja mengumpulkan rupiah untuk bekal
melanjutkan kuliah sehingga tidak membebani orang tuanya. Dia juga harus
berjuang untuk mendapatkan restu kedua orang tuanya. Namun, seperti yang kita
lihat, bahwa apa yang dia perjuangkan telah membuahkan hasil. Dia menuntaskan
impiannya. Dia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya. Baginya, berhenti
sejenak bukan berarti kalah, tapi sedang menyusun langkah untuk menembus
batas-batas yang menghambat dirinya meraih impiannya. Dialah Eva Yuliana,
perempuan yang tidak mengenal kata patah semangat, apalagi menyerah pada
kenyataan.
Yang Menginspirasi
Sejatinya, bagi
saya, kisah Misdawi dan Eva Yuliana bukan tentang kelulusan mereka sebagai sarjana,
tapi tentang dua orang yang sedang menunjukkan pada banyak orang bahwa impian
layak diperjuangkan meski harus menghadapi sekian banyak rintangan. Sekali
lagi, bukan tentang impian yang mereka capai, tapi tentang bagaimana mereka
berdua mencapai apa yang diimpikan.
Misdawi dan Eva
Yuliana sudah membuktikan, bahwa tidak ada usaha yang sia-sia apabila dilakukan
dengan keteguhan hati, gigih, dan tidak mudah menyerah. Apapun itu, apabila
kita memiliki impian, perjuangkanlah. Jalan akan dibuka bagi mereka yang mau
berjuang, bukan bagi mereka yang suka mencari alasan, apalagi meratapi dirinya.
Lalu apa yang
menginspirasi kita dari mereka berdua? Tidak ada lagi, selain semangat,
keteguhan hati, pantang menyerah, pekerja keras, dan yang paling penting mereka
tidak melihat hambatan realitas itu sebagai titik akhir dari perjuangan, tapi
sebagai bagian dari proses dan tantangan. Tapi, satu hal yang saya pelajari
dari Misdawi dan Eva Yuliana, bahwa kita harus bertanggung jawab atas nasib
kita sendiri; bahwa kita harus memperjuangkan impian kita meski sendirian, dan;
bahwa kita tak pantas menyandarkan impian kita pada orang lain.
Sebagai kawan
alumni, saya ucapkan selamat kepada Misdawi dan Eva Yuliana atas apa yang telah
dicapai. Kalian telah melakukan yang terbaik dan layak dikisahkan untuk
menginspirasi mereka yang tak percaya diri memperjuangkan impiannya. Sekali
lagi, saya ucapkan selamat dan teruslah bergerak sebab impian tak boleh mati.
Impian harus terus hidup dan tumbuh, sekecil apapun itu. Satu impian selesai,
bangunlah impian baru. Dunia ini hanya layak dihuni oleh mereka yang punya
impian dan siap memperjuangkannya.
Terakhir, salam hormat dari saya untuk kalian berdua dan semoga impian-impian kalian yang lain segera terijabah. Taqobbalallah minna wa minkum. Anta maksudi wa ridhaka mathlubi. Aamiin!
.png.jpg)


0 Komentar