Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

SEPI, CINTA, KETEGUHAN, DAN PESIMISME (Esai Edy Hermawan, S.Sos, Gr)

    Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (13 November 2025) 



/Nyanyian Kosong (K. M. Hotim Aszar)

 

Biarlah sepi mengembara kemana ia suka

Karena dermaga sudah penuh dengan nyanyian asmara

Burung burung pun telah terbang melintasi samudra

Angin berhembus lirih

Menambah sendu suasana malam

Kesunyian di tengah gemuruh ombak

Menampar karang yang berdiri tegak

Menahan panas api yang berkobar

Menggeliat, mengerang kesakitan

Menjelang pagi kegelapan masih akan bergelayut sampai ke ujung senja/

Adakah sesuatu yang lebih tragis selain sepi yang menyelimuti kita? Sendirian, tidak berguna, diabaikan, tidak berdaya, bahkan ditinggalkan tanpa harapan. Tidak ada. /Nyanyian Kosong/. Demikian K. Hotim Aszar merangkumnya dalam judul puisi ini. Penulis hendak mengekspresikan jiwanya yang disandera sepi dan hampa, tidak ada yang sudi mendengarkan nyanyiannya: logikanya tak mempan membentur dinding-dinding kepala keangkuhan; cintanya yang tulus, lembut, dan sopan pun tak sanggup mengetuk hati yang disesaki penuh egoisme.

/Biarlah sepi mengembara ke mana ia suka/ Hingga penulis mencapai puncak ketakberdayaan. Pasrah sepenuhnya pada sepi yang melumpuhkan jiwanya, entah akan diseret ke mana sepi itu mau. Penulis sudah tak peduli. Ia hanyut mengarus berasamanya.

/Karena dermaga sudah penuh dengan nyanyian asmara/ Lalu, apa artinya cinta bila hanya menjejalkan sepi dan menumbuh-suburkan egoisme? Kita memang tak pernah tahu kapan, di mana, dan ke dermaga hati siapa cinta kita akan berlabuh, tapi kita seharusnya tahu bagaimana menghargai dan menghormatinya sehingga tak menistanya. Pada titik ini penulis tetap diserang sepi meski cinta mengitarinya dan merasuki desah napasnya.

Bahkan, /Burung-burung pun melintasi samudera/ Menyiratkan kedekatan menjadi tak bermakna, sebab jiwanya berjarak sejauh dan seluas samudera. Setiap hari mungki saja bertemu tapi betapa kaku dan canggungnya. Ada jarak. Ada batas. Tak mungkin mudah ditembus.

/Angin berembus lirih/menambah sendu suasana malam/ Begitu rumit dada penulis ini. Ada cinta dan sepi yang kian berjingkrak, tapi berpaut dengan sepi sebagai pemenangnya. Cinta tak kuasa melebur sepi jadi ria dan harapan.

/kesunyian di tengah gemuruh ombak/menampar karang yang berdiri tegak/menahan panas api yang berkobar/menggeliat, mengerang kesakitan/ Sekilas kita menemukan keteguhan pada penderitaan, tapi sejatinya hanya sanggup bertahan tanpa mampu membenahi atau melawan.

/menjelang pagi kegelapan masih bergelayut sampai ke ujung senja/ Pesimisme menggerogoti jiwanya, bahwa gelap akan terus menyelimuti pagi, bahkan akan terus menyetubuhi matahari hingga senja. Kegelapan. Hanya ada kegelapan. Tak ada harapan. Sebab, habis senja gelap petang akan kembali memenjaranya.

Begitulah puisi ini: mengekspresikan rumitnya emosi dan pikiran. Kesepian. Ketakberdayaan. Cinta. Keteguhan. Pesimisme. Tapi setidaknya, dalam sepi penulis menjaga cahaya lilin tetap menyala meski tak menambah terangnya. Nyanyian Kosong. 




Penulis Esai:



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.