Puisi Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (27 November 2025)
Kepada dia
Yang tak pernah ada dalam skenario hidupku
Hari itu, aku nyaris karam ke dasar senyummu yang dalam
Meneguk binar matamu yang teduh
Lumpur pasir jangkar tertanam mulai goyah
Tali menegang, mungkin sebentar lagi putus
Ombak mengguncang
Perahuku terombang-ambing
Aku bukan nahkoda yang baik
Kala itu, kau datang serupa cahaya dalam gelapku
Serupa air di padang gurun tandus dadaku
Serupa api pada dingin yang menyelimutiku
Serupa penawar pada racun yang merangsek jantungku
Aku tak berdaya
Malam siang, pagi petang
Kutahmidkan rindu
Kutasbihkan kasih
Kuzikirkan cinta
Hanya padamu
Tapi, deburan ombak itu membangunkanku
Melemparkanku ke daratan
Berpasir halus, putih, dan lembut
Aku terkapar, menggeliat
Dalam redup mataku
Bayangmu kian menjauh
Aku bangun
Lalu lari secepat angin
Menahan perahu
Memegang kendali
Melawan gelombang
Menerjang karang
Aku tak tahu lagi kau di mana
Dosaku berani menatap matamu
Dosaku berani membalas senyummu
Dosaku berani membuka dadaku
Dosaku berani masuk ke relung hidupmu
Terlalu dalam
Biarlah kuhanyutkan dosa-dosa ini
Pada arus ke samudra
Dan kutitip pada karang
Aku akan kembali pulang
Meski tapak kakimu
Akan menjadi maqom di dadaku
Serupa maqom Ibrahim
Arasy pijak ketulusan, kejujuran
Dan keteduhan abadi



0 Komentar