Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

AKU SEMBUH DENGAN WAKTU (Cerpen Ahsan Zainul Ibad)

    Cerpen Ahsan Zainul Ibad, Siswa SMA Nurul Jadid (10 Desember 2025) 


Hari itu memang biasa saja. Aku masuk ke sekolah seperti biasa. Menyapa teman-teman satu kelas. Tak ada yang istimewa.

Namun, ada seseorang yang kehadirannya sangat istimewa buatku. Hampir setiap hari aku menunggunya di depan kelas meski tak ada sapa di antara kita. Bahkan, seulas senyum pun tak ada untukku.

Bel pun berbunyi.

Dringgggg.....! Dringggggg…! 

Aku segera masuk ke kelas dan duduk di tempat duduk yang tak jauh darinya. Saat itu, diam-diam aku menatapnya. Aku sangat senang meski hanya sekadar menatapnya, bukan saling tatap. Dalam benak, aku selalu berkhayal, kapan aku dan dia bisa saling tatap, mengirimkan sinyal harapan untuk selalu bisa bersamanya. Entahlah.

Senyampang aku bergumam, tiba-tiba dia menoleh. Tepat menabrak mataku yang sengaja tak kukedipkan atau kupalingkan darinya sejak tadi. Aku terkesiap. Aku tak tahu seberapa cepat degup jantungku. Aku bahagi tapi juga sangat gugup.

Dia tersenyum. Aku makin gugup. Isi dadaku melambung entah ke mana. Dan, setelah sekian lama,aku menyadari bahwa senyum itu adalah senyum terakhir yang akan aku lihat.


***


Selesai sekolah, aku sengaja langsung pulang. Aku tak mau berlama-lama di luar. Aku akan segera menghubunginya. Aku berharap, senyum hari itu kabar baik buat hubunganku dengannya.

“P.” Aku ketik huruf P sebagai tanda sapa dan kukirim padanya.

“Uy.” Dia membalasnya. Aku senang dia merespons.

“Lagi ngapain?” tanyaku penuh harap obrolan jadi lebih hangat.

“Nggak ada.” Dia menjawab, tapi sangak kering. Aku gelisah. Pikiranku terjun ke mana-mana. Dia benar-benar kehilangan respek untuk komunikasi denganku.

“Telponan yuk?”

Percakapan berakhir di situ. Tak ada sambutan. Tak ada penolakan. Pesan dibiarkan menggantung. Apakah dia sama sekali tidak mengerti bahwa saat itu dadaku sesak menunggu jawabannya. 

Tanpa aku sadari, sikapnya padaku telah berubah karena cinta yang dia inginkan telah kembali. Aku berusaha mencerna dan memahaminya.  Aku harus belajar mengikhlaskan sebab aku bukan orang yang dia tuju dan bukan cintaku yang dia mau.

Aku berusaha melepasnya. Tentu ini berat dan sangat berat. Kepergiannya bukan hal yang aku mau, namun kembalinya adalah hal yang akan selalu aku tunggu.


***


Beberapa bulan berlalu. Aku masih tak bisa melupakannya, bahkan fotonya saja aku tidak mampu untuk menghapusnya. Apalagi aku dan dia masih satu sekolah, bahkan satu kelas. Keadaan itu membuatku semakin sulit untuk melupakannya. 

Belum sepenuhnya aku berhasil menghapusnya, dia datang kembali dengan sejuta harapan. Dia kembali membuka diri untukku dan aku dibiarkan masuk ke dalam kehidupannya. 

Aku memanfaatkan kesempatan itu. Aku dekati dia dengan tekad dan sepenuh hatiku. Hingga akhirnya, aku dan dia bisa benar-benar dekat. Cukup lama. Berbulan-bulan. Aku tak pernah membayangkan kedekatan itu terjadi. 


***


Hubungan dan kedekatanku berlanjut hingga hari kelulusan. Aku menikmatinya. Aku merencanakan apa yang akan aku lakukan ke depan. Aku akan bahagia dengan selalu bersamanya. 

Namun, sesuatu yang janggal baru aku sadari. Dia selalu datang dengan menggenggam kebutuhan. Ketika sudah terpenuhi, dia pergi entah ke mana. Seketika itu aku sadar bahwa cinta yang aku genggam erat bertepuk sebelah tangan. Dia mempermainkanku. Mungkin dia tahu, bahwa aku sama sekali tak akan mampu menolak apapun yang dia mau dariku. Aku sungguh makin terluka karena ternyata itu benar. Aku mencintainya sendirian.

Saat tiba hari perpisahan sekolah, aku berpikir itu waktu yang amat tepat buat aku melupakannya. Aku akan pergi mondok. Aku tidak akan bertemu dengannya. Tidak akan melihatnya dan tidak pula mendengar tentangnya. Aku akan berhasil menghapus semua tentang dirinya. Ini kesempatan untukku. 

Tapi itu tetap sulit dan berat. Semakin kuat aku berusaha, semakin jelas senyumnya membayangiku. Aku ingin sekali berbagi cerita ini. Melupakan masa lalu. Saling menguatkan tanpa merendahkan. Sehingga, aku bisa mengikis harapan untuk bersamanya sedikit demi sedikit.


***


Lambat laun aku mulai sembuh. Sembuh dengan waktu. Aku berhasil melupakannya. Rasa perih dan terluka, itulah yang akan dirasakan ketika cinta yang diharapkan tidak berbalas. Kondisi seperti ini  membuat diriku lemah dan sulit buat move on. Hati dan pikiran akan terus fokus cuma untuk si dia.

Namun aku sadar, jika aku terus-terusan seperti ini maka akan berdampak buruk bagi diriku sendiri. Aku akan hancur berantakan. Aku harus menerima keputusannya.

“Masa lalu bagaikan buku yang telah usai kubaca. Kini, aku telah membuka lembar baru dengan kesadaran bahwa cerita yang indah butuh waktu untuk ditulis, dan proses penyembuhan adalah bagian dari babak itu," gumamku sembari menikmati luka.

“Aku tidak lagi menghitung hari, tapi merayakan setiap detiknya. Kini, aku bisa menjalani hidup dengan damai. Terima kasih, waktu.”


Sumenep, 2025-09-22





Penulis : 

Ahsan Zainul Ibad lahir dan tumbuh di sumenep, Madura.
Kini meniti langkah sebagai siswa di SMA Nurul Jadid Batang Batang.
Baginya, menulis adalah pelampiasan dari kenyataan yang tak bersahabat.



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.