Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

KETIKA PEREMPUAN HANYA DIHARGAI TUBUHNYA (Esai Edy Hermawan, S.Sos., Gr)

Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (21 Desember 2025) 

Belakangan, istilah pelakor menjadi istilah seksi di telinga saya. Hampir setiap kali menjelajah media sosial, saya selalu disuguhi dengan istilah tersebut. Apalagi, istilah pelakor tersebut banyak pula dikaitkan dengan beberapa artis ternama, termasuk artis idola saya (secret). Sepertinya, istilah pelakor memang seseksi pelaku pelakor itu sendiri.

Mulanya, setiap kali istilah pelakor itu terdengar di tengah-tengah obrolan, saya selalu menahan diri untuk menanyakan pengertian dan maksudnya meskipun saya tidak mengerti istilah tersebut. Biasanya saya hanya merespons dengan senyum dingin. Sejujurnya, saya malu untuk bertanya karena sangat mungkin saya akan dicap tidak up date. Biasa, jaga image, hehehe 

Namun, istilah pelakor terlalu populer untuk tidak dimengerti. Untuk mengusir rasa penasaran, saya iseng-iseng bertanya kepada istri apa maksud dari kata pelakor. Jawabannya sungguh menarik. Jawaban istri saya, pelakor itu adalah akronim dari “perebut laki orang”. Dengan jawaban itu, saya berpikir bahwa pantas saja istilah pelakor memang populer, terutama di kalangan ibu-ibu muda. Buktinya istri saya lebih tahu daripada saya. 

Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang kawan perempuan. Kami mengobrol banyak hal, hingga akhirnya sampai pada topik tentang perempuan. Dia sempat mengutarakan bahwa hari ini perempuan sedang sibuk berdandan dan memborong bermacam jenis perawatan sebab khawatir suaminya menjadi korban pelakor. Dengan kata lain, ibu-ibu hari ini harus tampak seksi dan mempesona agar suaminya tidak terpedaya oleh pelakor. Pelakor is very berbahaya. Begitu jelasnya.

Pada kesempatan lain, seorang ibu yang cukup fashionable bertanya kepada saya, kenapa hanya ada istilah pelakor yang notabene menyudutkan perempuan, padahal ada fakta yang juga menunjukkan bahwa laki-laki merebut istri orang. Saya pun memikirkan jawaban apa yang tepat; istilah apa yang tepat untuk laki-laki perebut istri orang; pebikor (perebut bini orang) atau periskor (perebut istri orang). Entahlah, saya belum dapat istilah yang pas di lidah dan telinga, tapi yang pasti kesadaran ibu itu tersinggung sebagai seorang perempuan ketika hanya ada istilah pelakor yang populer.

Pelakor memang merupakan sebuah istilah yang diperuntukkan bagi perempun. Sementara, perempuan itu sendiri memang makhluk yang paling seksi yang pernah saya tahu, terutama sebagai objek pembahasan. Manusia tidak pernah habis membahas tentang perempuan. Tidak salah kalau saya mengatakan bahwa perempuan memang seseksi “cinta” yang tak pernah habis untuk dibahas, mulai dari kisah cinta Adam dan Hawa sampai kisah cinta Habibie dan Ainun, dan akan ada lagi kisah-kisah lain hingga akhir zaman. 

Dalam benak, saya selalu bertanya-tanya, sebenarnya makhluk jenis apa perempuan itu hingga Adam rela memakan buah khuldi setelah setan menggodanya lewat perempuan (Hawa); ada pertumpahan darah di antara Habil dan Qabil, Antazari mantan ketua KPK dikaitkan dengan perempuan dan harus dipenjara, bahkan hingga Habib Riziq Sihab harus dilemahkan dengan perempuan (isu chat asusila)? Rocky Gerung pernah berkata bahwa perempuan hanya indah sebagai fiksi, tapi kejam dan sadis sebagai kenyataan. Saya kurang sepakat, sebab dalam fiksi Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Zainuddin pun dibuat sekarat oleh Hayati.

Mencermati sejarah, perempuan adalah makhluk kedua setelah Adam (laki-laki). Bahkan, perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Artinya, kehadiran perempuan (Hawa) tidak lebih hanya untuk memenuhi hasrat kebutuhan laki-laki (Adam) agar tidak kesepian. Perempuan adalah pelengkap kehidupan. Maka, kita tidak perlu heran ketika perempuan selalu menjadi makhluk yang selalu tersudutkan dan dinomorduakan, termasuk dengan istilah pelakor.

Sekali lagi, pembahasan tentang perempuan benar-benar seseksi perempuan itu sendiri. Tubuh perempuan ibaratnya alam raya bagi laki-laki. Semua yang dibutuhkan laki-laki bisa diperoleh dari dan melalui perempuan. Dengan nada lebih ekstrem, perempuan berpotensi menjadi berhala di berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi dan politik, apalagi dalam masalah biologis. Soal yang terakhir rasanya sangat sulit digantikan dengan boneka buatan Amerika atau Jepang sekalipun.

Surga tidak sanggup membuat Adam tenteram. Dia tetap merasa kesepian meski apa yang dia mau sudah pasti akan terpenuhi. Hanya seorang perempuan yang mampu mengusir kesepiannya, bahkan dia harus turun ke bumi lantaran setan berhasil menggoda Adam melalui Hawa. Pertumpahan darah pun harus dilakoni di antara dua manusia yang sedarah, sebapak dan seibu (Habil dan Qabil) lantaran perempuan.

Nabi Yusuf harus mendekam di penjara karena perempuan. Tetapi, Nabi Musa dapat bertahan hidup dan terselamatkan dari pembunuhan massal terhadap bayi laki-laki Israel oleh Fir’aun melalui jasa seorang perempuan. Bahkan, kekuatan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan dan menyebarkan Islam tidak dapat dilepaskan dari peran seorang perempuan (Siti Khadijah). Sekali lagi saya masih bertanya-tanya, makhluk jenis apakah perempuan ini?

Perempuan memang makhluk paling seksi dan potensial. Perempuan adalah perbendaharaan bagi laki-laki. Kata perempuan dalam wacana pos-modernisme atau pos-kolonial disematkan kepada dunia untuk membedakan antara dunia Barat dan Timur. Bagi posmo, Timur adalah perempuan, sedangkan Barat adalah laki-laki. Itu karena Barat dapat mengeksploitasi apa saja yang ada di dunia Timur. Semua kekayaannya dianggkut untuk memajukan peradaban Barat. Timur adalah istri bagi Barat. Timur mampu memberikan keuntungan bagi Barat. Maka, istilah ibu pertiwi (bukan bapak pertiwi) pun merupakan representasi dari kesadaran kita terhadap identitas keperempuanan negeri dan bangsa ini di hadapan Barat. Mungkin, begitu juga Kalimantan, Sumatera, Aceh, dan Papua. Mereka layaknya perempuan atau istri seksi secara ekonomi dan politik bagi Jakarta untuk terus dieksploitasi (sudut pandang mereka: Jawa) Maaf, tidak bermaksud rasis, tapi kalau mau ideologis, kita ganti dengan kapitalis.

Karena perempuan memang benar-benar seksi, lahan subur, mahkota kekayaan, dan potensi dalam segala hal maka perempuan tidak boleh menyadari semua potensi yang ada pada dirinya sendiri, apalagi perempuan berkuasa atas dirinya sendiri. Perempuan tetap harus berada di nomor dua, harus di bawah laki-laki, bertekuk lutut, dan patuh kepada laki-laki. Sebab, apabila yang terjadi sebaliknya, perempuan akan jadi bumerang bagi laki-laki. Peran dan status mulia serta terhormat laki-laki akan runtuh berantakan.

Perempuan tidak perlu sekolah tinggi agar tidak pintar dan cerdas. Perempuan tidak boleh jadi pemimpin agar tidak berkuasa lalu menindas dan menyepelekan laki-laki, dan perempuan tidak boleh kaya agar tidak mandiri. Pada intinya, perempuan harus bergantung kepada laki-laki. Hanya dengan begitu laki-laki akan terus menikmati kemewahan kekuasaan dan kehormatan ini. Tidak boleh merdeka. Tidak boleh federasi seperti gagasan Hatta, harus republik. Meski akhirnya otonomi khusus meski sebenarnya kamuflase saja. 

Perempuan itu emosional. Perempuan itu kurang akal. Perempuan itu lemah. Perempuan itu perusak hubungan. Perempuan itu pelakor. Ada banyak pernyataan untuk menekan potensi perempuan, kecuali itu menguntungkan bagi laki-laki. Begitu katanya.

Lebih dari itu, karena perempuan memiliki segala potensi maka perempuan juga menjadi lahan empuk bagi ekonom atau pengusaha. Perempuan harus cantik dan seksi agar tidak jadi korban pelakor. Supaya perempuan itu cantik dan seksi, dibutuhkan bedak, lipstik, mascara, pensil alis, eyeliner, eyeshadow, cream siang, cream malam, cream pagi, cream sore, vitamin rambut, lensa mata, infus whitening, dan sebagainya. Mereka juga butuh kerudung, mulai dari Paris hingga Saudi. Mereka butuh pembalut tubuh mulai dari syar’i, kaftan, abaya, dan berbagai jenis lainnya. Mereka juga butuh sandal dan sepatu, mulai dari wedges, french heels, high heels, dan seterusnya. Sepertinya, berbagai produk untuk perempuan terlalu banyak untuk disebutkan.

Pada intinya, diciptakanlah berbagai model pakaian dari luar sampai dalam, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Begitu juga perlengkapan perawatan, dari ujung kaki sampai rambut, dari siang hari hingga malam hari, dari berminyak sampai kering, dan seterusnya sampai tidak ada yang tersisa untuk dieksploitasi dari tubuh perempuan demi keuntungan ekonomi. Lalu siapa yang akan menikmati keseksian dan keindahan tubuh perempuan produk pabrik itu? Saya yakin, kalian sangat tahu jawabannya.

Namun, menciptakan produk belum cukup kalau tidak punya strategi pemasaran. Pengusaha perlu membuat definisi-definisi tentang perempuan. Cantik adalah. . . . Perempuan modern adalah. .. . Perempuan muslimah adalah. . ., dan seterusnya hingga dirasa perlu ada istilah pelakor. Alhasil, perempuan memang berharga dan mereka dihargai karena tubuhnya untuk dieksploitasi besar-besaran.

Seandainya Kartini masih hidup, dia tentu akan menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Nederland yang isinya: “Sahabatku yang ada di Nederland. Saya sudah kehabisan cara untuk menyadarkan perempuan pribumi agar tidak terjebak pada penghargaan fisik belaka, agar mereka tidak menghargai dirinya hanya pada tubuhnya dan agar mereka bisa berdiri tegak di hadapan peradaban karena prestasi yang dilakukan berupa kebajikan. Sahabatku, adakah jalan lain agar semangat ini terus bergerak maju dan mewujud, membebaskan perempuan dari ketidakadilan peradaban, budaya, dan adat. Sekarang mereka dilemahkan dengan berbagai istilah dan definisi tentang keperempuanan yang begitu memukau.”

Pada titik ini, saya sendiri tidak dapat berkata apa-apa, kecuali hari ini bahwa saya terlahir dari seorang perempuan, menikah dengan seorang perempuan, memiliki anak perempuan. Saya pun selalu berusaha menghormati dan menghargai perempuan sebagaimana saya menghargai dan menghormati diri saya sendiri. Taqobbalallah minna wa minkum, anta maksudi waridhaka mathlubi. Aamiin!

Ruang Tamu, 17 Desember 2025 



Penulis :



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.