Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

YANG KUAMINKAN DALAM DIAM (Cerpen Sofiyatul Hasanah)

 Cerpen Sofiyatul Hasanah, Siswa SMP Nurul Jadid (14 Desember 2025) 

Sepi. Angin berembus pelan. Gerimis hujan menemani malam yang gelap. Aku duduk diam di pojok kamar. Tubuhku ada di sana namun pikiranku berkelana. Mataku terpejam berusaha untuk menghilangkan perasaan yang seharusnya tidak hadir, namun nihil. Bayangan itu selalu memenuhi pikiranku. 

Saat itu aku berjumpa seseorang seindah dirinya. Tanpa direncanakan. Hari itu hari pertama aku melihatnya, tepatnya saat aku menjadi panitia kegiatan di sekolah.

“Ayo, cepat masuk. Katanya rapat udah mau dimulai!” Teriakan itu berasal dari temanku.

Saat mendengar rapat akan segera dimulai, aku bergegas menuju ruang rapat. Tiba di sana, beberapa teman panitia sudah mulai berdatangan.

Rapat dimulai. Semua orang fokus pada apa yang disampaikan oleh ketua panitia. Saat sedang memperhatikan yang disampaikan ketua panitia, bola mataku tak sengaja melihat ke arahnya. Parasnya tampan, rambutnya hitam legam, sejenak aku terpana dengan ketampanannya.

Seusai rapat, beberapa anggota panitia sudah meninggalkan ruangan. Aku memperhatikan lelaki itu lagi, meskipun yang lain sudah mulai keluar, lelaki itu masih setia duduk di kursinya. Tangannya memegang pulpen dan buku, entah apa yang dia tulis. Perutku sudah mengamuk karena belum terisi makanan apapun, namun tubuhku tidak mau beranjak, mataku tak pernah lelah untuk menatap lelaki itu. Ada sedikit rasa gugup saat tak sengaja mata kita saling bertemu.

Dia menawan sekali. Ada rasa nyaman saat aku berada di sekitarnya. Aku senang ketika aku berusaha mencuri pandang ke arahnya, rasanya seperti ada kupu-kupu beterbangan dalam perutku.

“Ini... jatuh cinta ya?” tanyaku pada diriku sendiri.

“Hukum Newton lll, setiap aksi akan menimbulkan reaksi.” Lena sedang membaca ulang rangkuman yang sudah ia tulis.

“Nah, jadi kalau kau mau dia bisa jadi milikmu, kau harus bertindak dong. Jangan diem aja. Karena kalau kau diem alias nggak ada aksi apa-apa, jangan harap perasaanmu itu akan terbalas,” ucap Lena kepada salah satu temanku. Gadis itu sedang memberi saran kepada Dila.

Dila bercerita bahwa ia sedang mengagumi seseorang dan ingin orang itu menjadi miliknya. Sama seperti keadaanku sekarang.

Mendengar saran Lena kepada Dila, aku pun ikut berpikir. 

“Apa iya aku harus mengungkapkan perasaan ini kepadanya? Tapi setelah diungkapkan, apakah terjamin kalau perasaanku akan terbalas? Aku nggak tahu dia suka sama siapa, barangkali dia sudah punya pacar atau punya orang yang sudah dia sukai, siapa yang tahu?” pikirku.

“Hayo, sedang mikirin apa tuh!" Sebuah tangan milik gadis bernama Lena menempel di bahu kananku.

"Nggak, bukan apa-apa.”

“Halah, boong. Itu senyum-senyum sendiri, lagi jatuh cinta ya?” ucap lena sembari memainkan alisnya.

“Mana ada. Nggak kok.”

“Nggak usah ngelak gitu, kita udah berteman dari sejak zigot sampe sekarang sebesar ini. Aku tahu kau pasti sedang jatuh cinta, raut wajahmu itu nggak bisa bohong.”

“Iya, iya. Aku sedang mikirin seseorang.”

“Widih, ternyata kau bisa jatuh cinta juga ya.”

“Lah, aku juga manusia kali, punya hati dan bisa merasakan cinta.”

“Oh iya, lupa. Kau kan manusia, bukan kelabang.”

“Sembarangan mulutmu.”


***


Matahari perlahan menghilang, langit yang semula biru menjadi hitam, dan sang rembulan pun menampakkan wujud indahnya di antara bintang-bintang yang bertaburan.

“I was enchanted to meet you. Please don't be in love with someone else. Please don't have somebody waiting on you.”

Potongan lirik dari lagu yang berjudul Enchanted milik Taylor Swift, bergema di sepanjang sudut kamar.

“Aku nggak tahu, sejak kapan perasaan ini hadir. Mungkin setelah kejadian itu? tapi rasanya senang ketika berhasil menemukan dia di tengah keramaian, entahlah seolah-olah mata ini sangat lihai mencari keberadaannya.” 

Aku memandang langit-langit kamar sembari memikirkan manusia yang akhir-akhir ini selalu muncul dalam benakku. Hampir tidak pernah absen.

“Meski tanpa pernah ada interaksi dan komunikasi, perasaan ini tetap ada. Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Nggak tahulah, pusing.” 

Aku memejamkan mata sejenak, namun lama-lama aku tertidur. Alunan musik juga sudah berhenti, yang tersisa hanyalah desiran angin malam.


***


“Aku dan dia bagaikan air dan minyak yang nggak bisa bersatu Len. Karena molekul air bersifat polar, sementara minyak bersifat non polar. Aku kayak astaghfirullah, sedangkan dia masyaallah. Aduh, mustahil deh,” ucapku kepada Lena.

“Lah, kata siapa nggak bisa nyatu? Bisa kok kalo ditambahin zat lain. Kayak sabun dan deterjen, itu bisa menyatukan air dan minyak. Sama kayak kamu dan dia, bisa bersatu asalkan Tuhan berkehendak dan jangan lupa iringi dengan doa karena nggak ada yang mustahil di dunia yang fana ini. Semua hal di luar nalar bisa saja terjadi atas kehendak Tuhan because God is the best planner,” balas Lena.

“Kalau kamu beneran suka, ungkapkan aja. Biarkan dia tahu,” lanjut Lena.

“Lalu, setelah dia tahu dan diem aja, nggak ada reaksi apa-apa gimana?” tanyaku.

“Ya, kalau dia tetap diem, berarti bukan kamu yang dia mau.”

Perkataan Lena mengganggu pikiranku. Aku terjebak antara harus mengungkapkan atau terus diam hingga dia paham dengan sendirinya. Tapi sampai kapan aku harus diam dan menunggu?


***


Cinta bisa datang dari hal yang sangat membingungkan. Cinta juga bisa pergi pada saat terlalu nyaman. Memilih cinta dalam diam terkadang menjadi pilihan terbaik dalam episode mengagumi salah satu ciptaan-Nya.

Dia, sosok lelalaki misterius, susah ditebak, dan punya banyak pencapaian. Bagai langit cerah yang indah, dia pun sama indahnya. Kepadanya, terimakasih sudah menjadi seseorang yang membuatku terus berkembang, setidaknya jika aku tidak bisa bersamamu, aku bisa mendapatkan dampak positif untuk meningkatkan kualitas diri.

Tetaplah bersinar dengan cahayamu. Dengan keindahanmu yang tak pernah memudar dalam pandanganku. Tetap baik di kehidupan ini.

Kuaminkan dalam diamku, semoga takdir mempersatukan kita. Aku percaya dengan Tuhan dan campur tangan alam semesta, mungkin kita akan dipertemukan di sebuah tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Suatu saat nanti.






Profil Penulis :

SOFIYATUL HASANAH,  biasa dipanggil Sofi. Lahir di Nyabakan, Batang Batang, 2010. Saat ini dia sedang duduk di kelas akhir SMP Nurul Jadid Batang Batang. Menulis adalah bagian penting dari hidupnya. Dia juga sangat senang membaca dan nonton film. Menurutnya, jatuh cinta boleh-boleh saja, tapi hancur berantakan karena cinta, nauzubillah min dzalik.  



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.