Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (5 Januari 2025)
Malam itu, peristiwa agung terjadi, sebuah pertemuan yang menjadi kerinduan terdalam setiap manusia beriman. Nabi Muhammad SAW bertemu langsung dengan Sang Kekasih di Sidratul Muntaha (isra’-mi’raj). Di sana, terjadi percakapan yang sangat mesra dan begitu intim, serupa pertemuan dua kekasih yang sudah lama terpisah, sebuah momen ‘asyik-ma’syuk yang melampaui logika.
Perjumpaan itu merupakan perjumpaan yang amat sakral. Tidak setiap hamba dapat berjumpa berhadap-hadapan dengan Tuhannya, apalagi secara langsung. Bahkan, malaikat Jibril pun hanya dapat mengantarkannya ke ambang pintu cahaya, tanpa kuasa melangkah masuk ke singgasana kudus yang hanya diperuntukkan bagi sang kekasih pilihan (al-musthofa).
Dalam perjalanan spiritual, perjumpaan dengan Tuhan merupakan kebahagiaan tertinggi, bahkan melebihi kenikmatan surga. Di kalangan pengelana spiritual atau salik, ada kalimat syahdu yang tak asing, “Aku tak peduli apakah berada di surga atau di neraka, asalkan aku bisa bersama-Mu, Tuhanku”.
Imam Al-Ghazali, dalam kitab Kimiyaus Sa’adah, menjelaskan berbagai jenis kebahagian manusia. Bagi Al-Ghazali, manusia dapat dipahami dari beberapa dimensi, yaitu dimensi kebinatangan, dimensi syaitan, dan dimensi malaikat. Dimensi-dimensi kemanusian itu menuntut kebahagian yang berbeda-beda.
Misalnya, dimensi kebinatangan manusia hanya akan bahagia apabila memperoleh kenyamanan biologis seperti makan, minum, seks, atau psikologis seperti pujian, penghormatan, atau dapat melampiaskan amarah dan dendamnya. Namun, dimensi malaikat manusia hanya akan memperoleh kebahagian dengan mengenal atau berjumpa dengan Tuhannya (ma’rifatullah).
Perjumpaan dengan Tuhan semakin dirindukan karena manusia menyaksikan kenyataan di dunia fana ini sangat jauh dari yang diharapkan. Ada banyak penderitaan, kekecewaan, ketidakadilan, ketidakpastian, bahkan berbagai luka yang tidak bisa dihindari. “Berjumpa dengan Tuhan” seringkali dianggap sebagai langkah sempurna untuk membebaskan diri dari kepedihan dan luka duniawi.
Bahkan, tidak sedikit orang yang berlomba-lomba dalam ritual untuk mencapai maqom spiritual itu, hingga terjebak pada anggapan bahwa puncak keberagamaan adalah ketika mampu mengasingkan diri (‘asyik-ma’syuk) dalam dekapan sunyi Tuhan. Mereka asyik sendiri dengan pikiran, perasaan, zikir, atau ritualnya sendiri, tanpa peduli pada yang lain. Tidak peduli, apakah dirinya memberikan manfaat pada lingkungan sekitarnya atau bahkan dirinya hanya kenyang di atas lapar orang lain, atau bahagia sendirian di atas penderitaan orang-orang di sekitarnya.
Namun, di sinilah letak keagungan Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak membiarkan dirinya mabuk dan tenggelam dalam egoisme spiritual. Beliau tidak memilih menetap di Sidratul Muntaha untuk bermesraan dengan Tuhannya dan menikmati kenikmatan spiritual sendirian. Beliau tidak takluk pada individualisme — yang penting dirinya aman dan nyaman, sedangkan yang lain biarlah meski terluka. Nabi Muhammad SAW tidak demikian. ¬¬¬¬
Nabi Muhammad SAW tidak bertahan dalam kebahagiaan yang damai dan nyaman itu —zona nyaman. Beliau memilih turun ke bumi yang fana. Beliau kembali dari Sidratul Muntaha ke alam dunia guna menghadapi realitas yang penuh luka, kezaliman, ketidakadilan, dan ketidakpastian. Beliau tidak lari dan bersembunyi dari masalah dalam dekapan hangat Tuhannya, tetapi mendekat, memeluk, dan memperbaiki realitas meski beliau harus terluka, terzalimi, bahkan dibalas dengan perlakuan tidak adil.
Sebab, apa guna mesra dengan Tuhan, tapi enggan memperbaiki kenyataan yang rusak dan penuh ketidakadilan? Kemesraan yang demikian bukanlah aktualisasi iman, melainkan bentuk kepengecutan dan kemunafikan yang dibungkus sorban dan jubah agama. Dengan bahasa yang lebih halus, kemesraan ini disebut egoisme spiritual, tanpa ada tawassut (adil) antara hablum minallah dan hablum minannas.
Syaikh Mustofa Al-Ghalayani dalam kitabnya ‘Idzatun Nasyiin (Nasihat untuk para pemuda) mengatakan, Allah SWT menciptakan manusia untuk bekerja keras yang dapat menunjang kehidupannya, berusaha keras di seluruh penjuru bumi untuk mengeksplorasi berbagai manfaat yang dapat kembali pada dirinya dan ummah —kemaslahatan bersama.
Beliau juga menambahkan, bahwa semua itu tidak akan dapat dicapai tanpa keberanian untuk maju dan menghadapi kesulitan-kesulitan, yang tidak lain adalah kenyataan yang melukai dan penuh ketidakadilan. Tapi sayangnya, seringkali kita tahu apa itu ketidakadilan tapi enggan untuk memperbaikinya karena takut pada ketidaknyamanan —sifat malas dan pengecut yang disembunyikan lewat diam yang katanya bijaksana atau yang lebih elegan berdalih demi kesehatan mental, padahal kita sedangan mencari aman dan nyaman sendiri.
Maka, dari peristiwa agung ini —isra’ mi’raj, kita dapat mengambil pelajaran bahwa beragama atau spiritualitas sejati bukanlah tentang melarikan diri dari masalah dan luka-luka sebab realitas dengan bermesraan bersama Tuhan dalam ritual zikir atau pikir, melainkan membawa energi ketuhanan untuk mewujudkan (kerja) nilai-nilai ketuhanan itu sendiri atau profetis, seperti keadilan, rahmah, dan empati, yang tentu bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
Perjumpaan dengan Tuhan, sejatinya, bukan finis dari perjalanan spiritual, melainkan bekal untuk memperbaiki realitas yang rusak. Nabi Muhammad SAW mengerti, bahwa mencintai Sang Khalik bukan harus duduk bersama dan bermesraan dengan-Nya, melainkan dengan peduli pada ciptaannya (realitas) yang direngkuh ketidakadilan dan luka-luka.
Taqobbalallah minna wa minkum. Anta maksudi wa ridhaka mathlubi. Wallahu a’lam. Aamiin!
Ruang Tamu, 02 Januari 2026



0 Komentar