Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

SEBATAS TAFSIR ATAS PESAN PENTING KIAI AHMAD SAHNAWI ZARIF (Esai Edy Hermawan, S.Sos., Gr)

  Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (12 Januari 2025) 


Mengingat pesan penting Kiai Ahmad Sahnawi Zarif, bagi saya, sama pentingnya dengan mengirimkan Al-Fatihah kepada beliau. Namun, jauh lebih utama jika kita berkenan mewujudkan pesan tersebut menjadi semangat dan langkah praktis dalam perjuangan pendidikan di Nurul Jadid. Meskipun demikian, kita tentu membutuhkan upaya ekstra untuk memformulasikan pesan tersebut agar relevan dengan setiap jenjang pendidikan yang ada.

Sebagaimana tulisan sebelumnya (Yang Terlupakan; Pesan Penting K. Ahmad Sahnawi Zarif), pesan tersebut sangat fundamental, yakni: mengajar anak didik dengan “membaca dan menghitung” sebagai dasar untuk menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya. Saya optimis hal ini dapat terwujud dengan komitmen semua pihak di Nurul Jadid. Saya pun yakin, pesan tersebut akan menjadi penawar terhadap gempuran arus teknologi dan informasi bagi santri Nurul Jadid di dunia yang sudah tak berbatas ini. Terlebih, hari ini media sosial rentan dijadikan sumber nilai dalam bersikap dan bertindak tanpa dikritisi, bahkan melebihi kitab suci Al-Quran.

Saya menyadari bahwa pesan tersebut tidak bisa disepelekan. Oleh karena itu, saya berupaya membagikannya kepada publik, khususnya kepada praktisi pendidikan di Nurul Jadid. Lebih dari itu, saya merasa perlu menyampaikan tafsir pribadi terhadap pesan tersebut dengan harapan dapat menjadi kunci pembuka kemajuan. Tulisan ini adalah salah satu wujud dari upaya tersebut.

"Membaca dan menghitung," begitulah pesan penting dari pendiri lembaga pendidikan Nurul Jadid. Saya memilih untuk mereduksi dua kata tersebut menjadi satu kata saja: "membaca". Selain alasan teknis untuk memudahkan pemahaman, pembaca akan menemukan alasan lainnya di dalam tulisan ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), membaca memiliki beragam makna, di antaranya: memahami, mengeja, memperhitungkan, dan mengucapkan. Bertitik tolak dari makna tersebut, membaca bukanlah kegiatan yang terbatas pada melafalkan atau mengeja semata, melainkan juga mencakup aspek pemahaman yang luas. Satria Darma, aktivis literasi, mendefinisikan membaca sebagai aktivitas otak yang tidak berhenti hanya pada pelafalan.

Jika saya mengatakan, “Bacalah Al-Qur’an itu!”, maknanya berbeda jika saya mengatakan, “Pahamilah atau lafalkanlah Al-Qur’an itu!” Perkataan pertama sudah mencakup perkataan kedua, sementara yang kedua belum tentu memadai untuk yang pertama. Seseorang bisa saja melafalkan Al-Qur'an tanpa memahaminya. Artinya, orang yang membaca seharusnya memahami, tetapi orang yang sekadar melafalkan belum tentu memahami.

Dengan memperluas pengertian tersebut, membaca adalah kegiatan lahiriah sekaligus batiniah. Membaca berarti memahami sesuatu sekaligus mengonkretkannya; sebuah proses internalisasi sekaligus eksternalisasi atau objektifikasi.

Meskipun makna membaca bersifat umum, bukan berarti unsur di dalamnya tidak dapat dipilah. Berbagai makna tersebut dapat dipraktikkan sebagai tahapan untuk mencapai pemahaman yang utuh. Dengan formulasi ini, kita dapat mengadaptasi pesan tersebut sesuai dengan jenjang pendidikan di Nurul Jadid.

Namun, saya merasa tidak cukup jika hanya menafsirkan pesan tersebut berdasarkan makna kata secara harfiah. Itu terlalu sederhana. Maka, saya terus mengumpulkan data dan merenungkannya.

Dalam proses tersebut, saya teringat peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad SAW pada abad ke-6 Masehi di tengah masyarakat jahiliyah yang diliputi kegelapan. Di Gua Hira, Nabi menerima wahyu pertama berupa perintah yang tegas menggunakan fi’il amar (kata kerja perintah): perintah untuk membaca (Iqra’). Ini adalah perintah pertama, bahkan sebelum perintah shalat, zakat, atau puasa.

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang ummi. Beliau bahkan sempat menyampaikan kepada Jibril bahwa beliau tidak bisa membaca. Namun, Jibril tetap mendesak hingga tiga kali.

Muncul pertanyaan: Mengapa Jibril begitu mendesak Nabi untuk membaca? Apakah Jibril bersikap keras kepada manusia yang ummi? Apakah Jibril telah melakukan kedzaliman dengan paksaan itu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang berusaha saya jawab.

Dari peristiwa tersebut, saya menangkap beberapa pesan penting. Pertama, membaca adalah fondasi utama sehingga Tuhan menjadikannya wahyu pertama. Kedua, membaca adalah langkah awal untuk mengangkat masyarakat dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya (nur). Ketiga, desakan Jibril hingga tiga kali menunjukkan bahwa mendidik manusia (termasuk diri kita dan anak-anak) untuk membaca bukanlah perkara mudah. Perlu kesungguhan, bahkan “rangkulan” kasih sayang sebagaimana Jibril merangkul Nabi. Terlebih, perintah itu adalah membaca dengan menyebut nama Tuhan, bukan membaca demi atau berdasar kepentingan pribadi atau nafsu belaka.

Setelah menemukan dasar teologisnya, saya mencari dasar sosiologisnya. Saya mempelajari dinamika kurikulum di negeri ini, khususnya Kurikulum 2013 (K13) yang menekankan pembentukan karakter. Salah satu dari 18 karakter dalam K13 adalah membentuk peserta didik yang literat atau gemar membaca.

Kata kuncinya tetap sama: membaca. K13 memandang kegemaran membaca sebagai salah satu solusi atas krisis moral, korupsi, dan kenakalan remaja yang melanda negeri ini. Artinya, membaca dipandang sebagai jalan keluar dari dekadensi karakter.

Fakta-fakta ini semakin meyakinkan saya bahwa pesan Kiai Ahmad Sahnawi Zarif adalah pesan yang sangat visioner. Kita harus mengajari anak-anak kita membaca dan menghitung dengan sungguh-sungguh. Alasannya sangat jelas, itu menjadi pondasi untuk mendalami berbagai ilmu.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa pesan itu tidak lahir dari seorang praktisi pendidikan biasa. Pesan tersebut lahir dari seorang umat Muhammad yang benar-benar mewarisi spirit kenabian; yaitu spirit untuk membebaskan manusia dari kebodohan melalui kekuatan ilmu dan literasi.

*Tulisan ini adalah tulisan lama yang disunting ulang karena masih dipandang relevan, setidaknya sebagai dokumentasi.

Ruang Tamu, 07 Januari 2026




Penulis :



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.