Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

CINTA PLATONIS SEBAGAI PENGHORMATAN TERTINGGI (Esai Edy Hermawan, S.Sos., Gr)

Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (12 Februari 2026)

(Catatan Cerpen Sofiatul Hasanah SMP Nurul Jadid: Yang Kuaminkan dalam Diam

Kita masih sering tergesa-gesa memaknai cinta hingga terjatuh pada reduksionisme cinta. Ketika kita merasakan kenyamanan atau ketertarikan pada seseorang maka kita segera menyebutnya cinta, lalu kita beranjak ke level hubungan berikutnya, seperti pacaran, tunangan, bahkan menikah. 

Begitu juga, ketika kita mengidentifikasi seseorang nyaman dan tertarik pada kita maka kita pun menyebutnya cinta, lalu kita berpikir bahwa orang itu menyimpan harapan atau akan melakukan sesuatu untuk membangun hubungan lebih dari sekadar persahabatan. Padahal, cinta tidak dapat direduksi pada bentuk-bentuk hubungan, bahkan pada pernikahan sekalipun.

Sering pula kita mereduksi cinta pada dimensi biologis. Bahwa, cinta adalah reaksi biologis seseorang pada orang lain, terutama pada lawan jenis yang muaranya pada pemenuhan kebutuhan seksual yang bertumpu pada keindahan fisik seseorang. Juga, cinta direduksi pada dimensi sosiologis, baik status sosial maupun ekonomi. Seseorang mencintai orang lain hanya karena orang tersebut mampu membawanya pada status sosial-ekonomi yang lebih tinggi, atau mempertahankan status yang sudah ada. 

Namun, sebagai kategorisasi terhadap cinta yang kemudian membentuk suatu hubungan, reduksi itu sah-sah saja. Bahkan itu baik karena kita punya ruang untuk mengidentifikasi cinta yang tumbuh di dalam diri kita atau cinta yang datang dari orang lain untuk kita, apakah cinta itu hanya manifestasi biologis seksual atau untuk mempertahankan dan menaikkan level seseorang dalam struktur sosialnya? 

Meminjam istilah Max Weber, cinta demikian dapat dikata cinta (tindakan) intrumental, yaitu menjadikan cinta dan hubungan sebagai alat untuk memenuhi ego pecinta dan ini menjadi problem manusia modern (diperalat atau memperalat). Tentu saja ini cinta yang paling rapuh, egosentris, dan paling buruk. Kita tidak bisa membayangkan suatu hubungan bahkan pernikahan sekalipun karena cinta instrumental ini, kecuali hanya sebagai instrumen biologis dan sosiologis. 

Dalam istilah Yunani, cinta yang bertumpu pada keindahan fisik dan seksualitas ini disebut dengan eros. Cinta ini menuntut romantisme dan kebersamaan yang intim secara fisik. Bahkan, membentuk obsesi kontrol dan kendali. Dalam bentuknya yang sakral dan kudus, cinta jenis ini membentuk hubungan pernikahan.

Lalu, apakah itu suatu kesalahan atau kekeliruan? Tentu saja kita tidak dapat begitu saja mengatakan itu sesuatu yang benar atau salah, tapi fakta objektif suatu hubungan memang demikian adanya. Bahkan, kita dapat saja melihatnya sebagai fakta dalam suatu hubungan dengan berpijak pada asusmsi simbiosis mutualisme. Meski sebenarnya, ini sangat materialistis, rapuh, atau positivistik, tidak menyentuh sisi terdalam dari suatu hubungan.

Asumsikan itu normal, bahwa cinta merupakan manifestasi dari kebutuhan biologis dan sosiologis, lalu bagaimana dengan cinta Tuhan kepada hambanya dan cinta hamba pada Tuhannya, cinta nabi pada ummatnya dan cinta ummatnya pada nabinya, cinta orang tua pada anaknya dan cinta anak pada orang tuanya, cinta guru pada muridnya dan cinta murid pada gurunya, cinta saudara kepada saudaranya, atau cinta seorang teman kepada temannya? Cinta macam apakah itu?

Ada satu hal yang tidak bisa dibantah, bahwa dalam cinta yang kemudian membentuk suatu hubungan terselip harapan untuk menjadi lebih baik, tumbuh dan berkembang bersama, bahkan mencapai puncak etis dan spiritualitas tertinggi, atau menjadi semakin bahagia, berguna dan bermanfaat. Kita tak bisa mengingkarinya.

Namun, pantaskah itu disebut cinta murni dan universal ketika dibangun di atas altar biologis atau sosiologis? Nyatanya, ini hanya akan membentuk hubungan yang sangat transaksional dan rapuh. Bahkan, tidak akan mampu mencapai titik puncak spiritualitas atau etis seseorang tanpa ada yang dimenangkan atau dikalahkan. Ini cinta yang sangat absurd dan ilutif, bahkan bila ini terjadi dalam bentuk hubungan apapun, seperti pernikahan, persahabatan, guru-murid, nabi-ummat, atau Tuhan-hamba. 

Mengapa cinta seperti ini begitu rapuh? Karena cinta jenis ini hanya bertumpu pada fisik atau materi yang notabene itu sangat tidak ajeg atau jauh dari stabil. Tumpuan itu akan terus berubah dalam perjalanan ruang dan waktu. Bahkan, kalaupun hubungan yang bertumpu pada cinta eros ini dipertahankan, hanya akan memendam dan memanipulasi luka.

Seorang filsuf Yunani, Plato, mengetengahkan konsep cinta murni. Kita menyebutnya cinta platonis. Cinta ini menanggalkan obsesi seksualitas, romantisisme, obsesi status sosial, ataupun obsesi ekonomis. Bahkan, cinta ini mengesampingkan kontrol dan kendali terhadap orang yang dicintai. 

Cinta platonis ini berpijak dan berakar pada kekaguman jiwa, intelektual, dan spiritualitas seseorang. Cinta ini bentuk penghormatan tertinggi dari pecinta kepada yang dicinta. Tidak ada obsesi kepemilikan, tidak ada obsesi fisik, tidak ada obsesi seksual, tidak ada obsesi ekonomi, dan tidak ada obsesi status sosial. Yang ada hanya penghormatan dan kekaguman pada jiwa, intelektual, etika, dan spiritualitas pada orang yang dicintainya.

Interaksi dan komunikasi yang terbangun dari cinta platonis hanya terbatas pada persahabatan yang saling menghormati, membangun, dan mendukung untuk mencapai puncak potensi diri, puncak intelektual, puncak spiritualitas, dan etis. Tidak ada romantisisme, apalagi hubungan fisik dan seksualitas.

Cinta platonik bersifat universal. Cinta ini dapat dibagi atau diberikan kepada siapa saja, tidak hanya kepada istri. Bahkan, cinta ini melampaui hubungan lawan jenis. Artinya, cinta platonik juga mewujud dalam hubungan sesama jenis. 

Di tengah masyarakat, cinta platonik dapat diidentifikasi pada hubungan cinta antara seorang murid dengan guru, seorang umat dengan nabinya, atau dalam persahabatan dua orang, entah sesama jenis maupun beda jenis. 

Bagaimana cinta platonik bisa demikian universal? Sebab, cinta platonik tidak bertumpu pada fisik dan seksualitas. Cinta platonik tidak punya hasrat untuk romantis. Cinta platonik hanya tumbuh untuk saling membangun dan mencapai kebijaksanaan jiwa, intelektual, dan spiritual. Cinta platonik merupakan cinta paling murni dan transendental.

Maka, ketika kita sedang merasakan kenyamanan dan ketertarikan kepada seseorang, mungkin kita dapat menyimpulkannya itu adalah cinta. Namun, kita tidak bisa berhenti pada kesimpulan itu, kita harus melanjutkan lagi agar kita paham dan mengerti cara menyikapinya: cinta macam apakah yang sedang tumbuh ini atau cinta macam apakah yang sedang disuguhkan kepada kita?




Penulis :



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.