Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

KETIKA AL-QUR’AN LEBIH BANYAK DIBACAKAN KEPADA ORANG MATI (Esai Edy Hermawan, S.Sos., Gr)

 Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (04 Maret 2026)

(Refleksi Nuzulul Qur'an)


"Agar dia memberi peringatan (dengan Al-Qur’an) kepada orang-orang yang hidup dan agar ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir itu menjadi pasti.”

QS. Yasin: 70.


Ketika Jibril menyampaikan wahyu pertama, iqra’, di Gua Hira, perintah “bacalah” itu tidak ditujukan kepada orang yang meninggal. Perintah itu diledakkan sebagai seruan bagi jiwa-jiwa yang masih bernapas untuk memahami, menggugat, dan mengubah realitas yang diliputi gelapnya kejahiliaan serta ketidakadilan. 

Maka, pada momentum Nuzulul Qur’an kali ini, kita mesti berani bertanya: apakah Al-Qur’an yang diturunkan untuk mengguncang kegelapan dan membangun peradaban itu telah kita reduksi sekadar “bacaan hadiah” untuk orang mati, atau masih menjadi api yang membakar semangat kita untuk menegakkan keadilan, kebenaran, dan menyingkirkan kezaliman?

Jika jawabannya yang pertama, maka mulai saat ini, mari kita berhenti bersikap berlebihan membacakan Al-Qur’an kepada orang mati. Ini bukan soal salah atau benar secara fiqih, apalagi berdebat soal ada dalilnya atau tidak. Tapi, ini tentang tujuan utama Al-Qur’an diturunkan seringkali terabaikan justru di tangan kita sendiri sebagai orang yang berniat memuliakan Al-Qur’an. 

Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup bagi yang bertakwa  (hudan, QS. Al-Baqoroh: 2), pembeda antara yang hak dan batil (furqon, QS. Al-Furqon: 1), obat penawar penyakit di dalam dada (syifa’, QS. Yunus; 57). Ketiga fungsi Al-Qur’an itu jelas ditujukan bagi kita yang hidup. Al-Quran hadir sebagai peringatan bagi kita yang hidup agar teguh dalam berkeadilan, berkemanusian, dan membangun peradaban, bukan sebagai peringatan bagi mayat agar menjadi mayat yang baik atau saleh di liang lahat.

Mari tengoklah sejenak ke sekitar. Nyaris setiap waktu, telinga kita mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang berasal dari musala atau masjid. Suara ayat-ayat suci itu bertalu-talu menyambut fajar, mengalunkan Yasin setelah Subuh, mengisi jeda sebelum Magrib, hingga ritual khataman Al-Qur’an yang dikebut dalam sehari. 

Namun, di tengah riuh suara ayat-ayat suci itu kita kehausan makna Al-Qur’an. Kita nyaris tidak menemukan ruang-ruang diskusi atau muthola’ah untuk menghidupkan pesan Tuhan. Kita kehilangan kajian tafsir Yasin yang mendalam, tafsir Fatihah yang transformatif, atau membedah kitab-kitab tafsir klasik lain yang dapat membawa kita pada pemahaman tentang pesan Al-Quran hingga dapat diterapkan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih greget mengejar target bacaan daripada mengejar pemahaman.

Yang cukup ironis dan menggetirkan, terkadang lantunan ayat-ayat suci itu ditukar dengan materi kepada orang-orang tertentu, dengan dalih sebagai peringan siksa keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Al-Qur’an pun bergeser dari kitab petujuk (hudan) dan pembeda (furqon) menjadi komoditas ritual yang traksaksional.

Belum lagi, Al-Qur’an lebih banyak dibaca sebagai seni suara. Kita lebih takut membaca Al-Quran kalau salah makhraj, tapi sama sekali tidak terusik saat nilai-nilai Al-Qur’an alpa dari aktivitas kita sehari-hari.

Akibatnya, muncul pardoks yang amat memilukan. Suara ayat-ayat suci menggema di mana-mana. Namun, praktik ketidakadilan, ketidakjujuran, serta hilangnya sisi empati dan kemanusiaan tumbuh subur, bahkan mungkin tak tersentuh sama sekali.

Surah Al-Ma’un dibaca, bahkan dihafal, tapi kita tertahan dan kaku untuk tolong-menolong. Kita juga hafal surah Al-Asr, tapi kita absen untuk membangun  tradisi saling menasihati untuk menetapi kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. Kita fasih melantunkan ayat-ayat riba, tapi rentenir tumbuh subur di sekitar kita.

Coba kita bayangkan, seandainya energi membaca atau khataman Al-Qur’an tersebut juga digunakan untuk menghidupkan ruang-ruang kajian Al-Qur’an; bagaimana relevansi Al-Qur’an dengan sains dan bagaimana menerapkan prinsip keadilan Qur’ani dalam mengentaskan persoalan pendidikan, ekonomi, bahkan politik, maka tentu Al-Qur’an tidak hanya menjadi latar suara duka bagi kematian, tapi juga menjadi jantung peradaban masyarakat madani.

Sekali lagi, mari kita berhenti bersikap berlebihan membacakan al-Qur’an untuk orang-orang mati. Mari kita mulai optimalkan membaca Al-Qur’an untuk orang-orang hidup. Kita dapat memulainya dengan hal sederhana meski dengan jamaah terbatas. Misalnya, masjid atau musala membuat program kajian kitab Tafsir sekali dalam sepekan. Kita juga memasukkan kegiatan kajian tafsir ini di perkumpulan warga, yang biasanya hanya sebatas yasinan atau tahlilan, mungkin diselipkan atau diganti dengan kajian tafsir Surah Yasin. Pada titik ini, Al-Qur’an akan benar-benar menjadi pedoman hidup, bukan sekadar diperas pahalanya untuk mereka yang ada di alam kubur.

Sebab, pada akhirnya memuliakan Al-Qur’an bukan sekadar dibaca sebanyak-banyaknya, disuarakan seindah-indahnya, dilantunkan dengan ketepatan makhrajnya, atau dikirimkan pahalanya bagi yang mati. Namun, jauh lebih penting memuliakan Al-Qur’an dengan mengkajinya, memahaminya, lalu mempraktikkannya. Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi napas hudan, furqon, dan syifa’  dalam pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku kita.

Taqobbalallah minna wa minkum. Anta maksudi wa ridhaka matlubi. Wallahu a’lam. Aamiin!



Penulis :



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.