Edy Hermawan, Guru SMA Nurul Jadid (04 April 2026)
“Atas nama Allah yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
QS. Al-Fatihah: 1
Pernahkah kita
menghitung berapa kali bacaan basmalah membasahi bibir kita? Setidaknya,
sehari-semalam kita membacanya tujuh belas kali sesuai dengan jumlah rakaat
shalat lima waktu. Bahkan, sebagian yang lain lebih dari itu berdasarkan
anjuran membaca basmalah setiap memulai aktivitas agar keberkahan terus
mengalir tanpa terputus.
Namun, pernahkah
kita jeda sejenak dengan hati tenang merenungkan makna basmalah? Lalu,
memastikan bahwa kegiatan, perilaku, ataupun sikap yang kita mulai dengan basmalah
itu benar-benar merepresentasikan atau merupakan manifestasi dari ruh basmalah?
Allah Swt memulai basmalah
dengan huruf ba’ untuk menyebut nama-Nya. Ba’ yang berarti
“dengan” atau “atas” bukan sekadar simbol linguistik, apalagi sekadar huruf
artikulatif yang lahir dari pertemuan dua bibir. Ba’ menjelma menjadi
huruf yang revolusioner karena menggeser titik tumpu semua sikap dan perilaku
kita, dari “Aku” (ego diri) menuju “Dia” (Sang Pencipta).
Saat kita
mengucapakan “bismillah” (atas nama Allah) maka seketika itu juga kita
mengakui bahwa segala sikap dan perbuatan kita berdasarkan atau atas nama dan
kehendak-Nya, bukan atas nama kita atau kepentingan pribadi kita. Juga, pada saat itu kita hanya berperan
sebagai alat untuk mewujudkan kehendak-Nya. Ini sejalan dengan apa yang
dijelaskan Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar.
Maka, sejatinya membaca
basmalah adalah deklarasi ketundukan ego diri pada nilai-nilai dan
kehendak Tuhan yang terjelma dalam wujud syari’at. Artinya, apa yang hendak
kita perbuat harus selalu diselaraskan atau disesuikan dengan syari’at, yaitu
perintah dan larangan Tuhan. Jangan sampai yang terjadi sebaliknya, syari’at
Tuhan yang disesuaikan dengan mood, ego, atau kepentingan nafsu pribadi kita.
Quraish Shihab dalam
Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ba’ dapat bermakna isti’anah atau permohonan
pertolongan. Dengan mengucap basmalah, kita mengakui bahwa tidak ada
daya, upaya, ataupun keberhasilan yang bisa kita capai tanpa bantuan-Nya. Ego
yang biasa lantang berteriak, “Aku yang melakukan ini!”, seketika dibungkam dan
diganti dengan “Tuhan yang memampukanku”.
Juga, kita yang
sering terjebak pada ilusi kemandirian mutlak dengan merasa bahwa bisa
mengendalikan semua sendiri, maka ilusi itu terdekonstruksi tatkala basmalah
terucap. Kita sadar bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri dan butuh untuk
selalu terhubung dengan-Nya.
Kemudian, setelah
menyebut nama-Nya dalam basmalah, Allah Swt menyertakan sifat Ar-Rahman
(Maha Pengasih) dan Ar-Rahim
(Maha Penyayang) mendahului sifat-sifat yang lain. Ini bukan tanpa
maksud, tapi sebagai petunjuk bahwa sifat kasih sayang-Nya lebih dulu dan lebih
luas daripada murka-Nya.
Al-Baghawy dalam
kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kata Ar-Rahman adalah sifat kasih Allah Swt
untuk semua makhluk, tanpa ketentuan harus iman atau kufur, harus taat atau
bermaksiat. Sedangkan, Ar-Rahim merupakan sifat Allah Swt yang lebih khusus
hanya untuk orang-orang beriman dan taat sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu
Hayyan dalam kita tafsir Bahrul muhith.
Kita bisa
mengandaikan sifat kasih sayang itu dalam sebuah hubungan, entah hubungan
bertetangga, berteman, maupun pernikahan. Meskipun tentu ini tidak sepadan
dengan kasih sayang Allah Swt itu sendiri.
Misalnya, seorang
pasangan yang tetap berlaku baik, mengasihi, menghargai, dan menghormati
pasangannya meskipun direndahkan dan disepelekan, merupakan wujud sifat
Ar-Rahman. Dia tidak peduli pada apa yang diperbuat pasangannya padanya. Dia
hanya tahu bahwa dia harus mengasihinya.
Berbeda dengan
Ar-Rahman, sifat Ar-Rahim hanya diberikan kepada mereka yang membalasnya.
Misalnya, seorang pasangan akan menyayangi, menghormati, dan menghargai
pasangannya hanya jika pasangan itu juga menghargai, menyayangi, dan
menghormatinya. Artinya, Ar-Rahim adalah sifat yang berusaha sepadan atau
kesalingan; saling mencintai dan saling menghormati. Ini sifat yang sangat adil
dan intim.
Namun, kecenderungan
kita sangat sulit untuk mempraktikkan sifat Ar-Rahman. Karena, kita sebagai
manusia cenderung hanya mau menghargai orang yang menghargai kita, menghormati
orang yang menghormati kita, dan mencintai orang yang mencitai kita. Maka itu,
sifat Ar-Rahman ini, dalam Tafsir Al-Kasysyaf, lebih mungkin hanya
melekat pada Allah Swt. Tetapi Ar-Rahim, sangat mungkin dan normal terjadi dan
melekat pada manusia sebagai bentuk kedekatan atau keintiman dalam berhubungan.
Sebab itu, ketika kita
menyebut Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam basmalah maka kita seharusnya
berusaha keras menebarkan kasih sayang dan membumikan keadilan. Menyebut nama
Tuhan beserta sifat kasih sayangnya pada sebuah perbuatan, sementara perbuatan
itu nirempati, abai pada keadilan, bahkan menindas dan menyakiti yang lain,
pada hakikatnya adalah kontradiksi dan mencederai esensi dari basmalah
itu sendiri.
Terkadang, bacaan basmalah
memang hanya menjadi rutinitas atau kebiasaan mekanis, bukan sesuatu yang hidup
dalam kesadaran. Kita melafalkan basmalah, tapi pada saat bersamaan apa
yang kita lakukan sebenarnya manipulatif pada orang lain, bahkan memuat siasat
licik dan culas untuk menzalimi atau bertindak tidak adil, demi keuntungan
pribadi, maupun citra dan kenyamanan diri.
Contoh konkret,
misalnya, seorang atasan yang memulai rapat dengan basmalah, tetapi menutup
telinga dari keluh kesah bawahannya, bahkan merendahkan karakter mereka yang
berani bersuara. Atau kita semua, yang dengan ringan membaca basmalah namun
tetap bertindak impulsif tanpa peduli betapa dalam luka yang kita timpakan pada
orang lain. Bila begini, basmalah bukan lagi menjadi ruh dari sikap,
perilaku, atau apa yang kita kerjakan, melainkan hanya menjadi kemasan ego yang
busuk dengan stempel agama atau nama suci Tuhan.
Az-Zamarkhsyari, dalam
Tafsir Al-Kasysyaf, menjelaskan bahwa dulu masyarakat Mekkah ketika
hendak melakukan sesuatu maka mereka menyebut “Bismil-Latta” atau “Bismil-Uzza”.
Dua nama itu disebut bukan sekadar sebagai berhala dari batu atau kayu, tetapi
juga simbol fanatisme kelompok atau kesukuan mereka. Mereka menyebutnya,
kemudian melakukan sesuatu atas namanya.
Namun sekarang,
berhala tidak selalu berupa patung. Berhala batu itu bermetamorfosis menjadi “individualisme
akut” yang mendewakan kepentingan dan kenyamanan diri di atas segalanya, arogansi
intelektual dan spiritual, merasa paling ilahiah sedangkan yang lain syaithoniyah,
atau perilaku narsistik yang menganggap orang lain hanya alat untuk mencapai
tujuan pribadinya sendiri. Tentu ini sangat jauh dari ruh basmalah meski
dibaca beribu kali.
Maka, agar basmalah
yang kita baca tidak hanya seperti raga tanpa jiwa, mari berhenti sejenak dan jujur
pada diri kita sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: apakah saat
kita membaca basmalah hati kita benar-benar mengakui bahwa apa yang kita
lakukan atas bantuan kekuatan-Nya? Apakah sikap dan perbuatan kita sudah
selaras dengan nilai-nilai dan kehendak-Nya?
Atau, kita membaca basmalah
hanya untuk melegitimasi kepentingan ego dan kenyamanan pribadi kita sendiri?
Tentu, kita sendiri yang dapat menjawabnya lebih tepat. Tapi yang jelas, jangan
sampai kita “menyebut Tuhan, tapi menyembah ego”.
Taqobbalallah minna
wa minkum, anta maksudi wa ridhaka mathlubi. Wallahu a’lam. Aamiin!
Hotel Kaberez, 22 Maret
2026
Sumber:
1. Abu al-Qasim Mahmud bin
Umar bin Muhammad al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh
at-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta'wil.
2. Abu Hayyan Al-Gharnathi
Al-Andalusi, Bahrul Muhith.
3. Imam Al-Baghawi, Ma’alimut
Tanzil atau Tafsir Al-Baghawi.
4. Muhammad Abduh &
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Mannar, Jilid I.
5. M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Misbah, Jilid I.



0 Komentar