Abu Bakar, Waka Kurikulum SMP Nurul Jadid (16 April 2026)
يٰسٓ
Keberadaan الحروف المقطّعة (huruf muqatta'ah) di awal surah bukanlah tanpa makna, susunannya bukan kebetulan, melainkan penuh perhitungan, meskipun makna hakikinya hanya diketahui Allah. Di dalam tafsir Jalalain, hal:440 juz 2 "Ya Sin" di tafsirkan "Allah SWT lebih mengetahui apa yang dimaksudkan dengannya". Ini adalah ungkapan yang sering digunakan oleh para mufassir (ahli tafsir) ketika membahas ayat-ayat yang maknanya tidak dapat dipastikan secara mutlak oleh manusia.
Berbeda dengan pendapat Imam Al-Wahidi menukil dari tafsir ibnu jabir bahwa Ibnu Abbas dan para mufassir yang lain berkata: “beliau menghendaki makna ‘Ya Sin’ adalah ‘ya Insan’ :wahai manusia, maksudnya Muhammad." Tafsir al-Wasith, hal: 509 juz 3.
Pendapat ini di perkuat oleh imam Fakrur Rozi “Dikatakan (oleh sebagian ulama) bahwa Ya Sin (يس) secara khusus merupakan suatu seruan (nida’), maknanya adalah Yā Insan (wahai manusia) dan Berdasarkan ini, (dipahami) bahwa khitab (seruan) ditujukan kepada Muhammad SAW, dan hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya setelahnya (إِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ) Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar termasuk para rasul.” Tafsir Mafatihul Ghaib hal:39 Juz 26
Sedangkan Imam Malik menafsirkan Yasin dalam ayat tersebut sebagai salah satu nama Allah. Oleh karena itu, beliau berpendapat bahwa tidak pantas seorang hamba diberi nama dengan lafal yang merupakan nama Allah, karena hal itu termasuk bentuk tasyabbuh (menyerupai) yang tidak diperbolehkan. Ini sejalan dengan pendapat bahwa Yasin adalah nama Allah.
“Di antara pendapat-pendapat الحروف المقطّعة adalah bahwa ia merupakan salah satu nama Allah SWT, Ibnu al-‘Arabi berkata: Asyhab berkata: Aku bertanya kepada imam Malik, ‘Apakah selayaknya seseorang diberi nama Yasin (يس)?’, (Imam Malik) menjawab: ‘Aku tidak menganggapnya selayaknya, karena firman Allah SWT: Ya Sin, demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, Dia (Allah) berfirman: ‘Ini adalah nama-Ku Yasin’.” Tafsir Tahrir wa Tanwir hal: 344 juz 23
Ibnu al-‘Arabi mengomentari pendapat Imam Malik sebagai perkataan yang khusus hanya untuk Allah SWT, Ibnu al-‘Arabi berkata: “Ini adalah perkataan yang indah (menakjubkan), karena seorang hamba tidak boleh dinamai dengan nama Allah jika di dalam nama itu terkandung makna (keserupaan dengan sifat Allah) seperti perkataan (misalnya) ‘Āmil (yang bertindak) dan Qādir (yang mampu).” Tafsir Tahrir wa Tanwir hal: 344 juz 23
Wa Allahu A’lam.
Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.



0 Komentar