Puisi Maratul Maufiro Siswa Kelas XI-A SMA Nurul Jadid (26 Juli 2026)
Ayah, Ibu
Mereka, malaikat tak bersayap
yang menuntunku berdiri saat dunia masih terlalu tinggi untukku,
dan menenangkanku saat tangisku memecah malam.
Ayah, doanya sunyi.
Ia tak pandai berkata sayang,
tapi punggungnya yang basah oleh peluh jadi surat cinta terpanjang untukku.
Ia mengajarkanku bertahan lewat caranya tetap berdiri.
Ibu, cintanya bergemuruh.
Bukan badai yang menghancurkan,
tapi ombak yang memeluk agar aku tak terlena oleh dunia.
Gemuruhnya hanya agar aku ingat,
ada dua hati yang tak tenang sebelum aku pulang.
Ayah, Ibu, doakan aku.
Jika kelak namaku dikenal banyak orang,
aku tak akan lupa dua nama yang pertama ku sebut dalam doa.
Hiduplah lebih lama, temani aku di sini,
sampai aku menutup mata.
Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.



0 Komentar