Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

TENUNAN TERAKHIR (Cerpen Maratul Maufiro)

 Cerpen Maratul Maufiro Siswa Kelas XI-A SMA Nurul Jadid (27 Agustus 2026) 


Tek...! Tek...! Tek...! 

Suara itu yang paling aku benci. Sejak pukul 03.00 pagi sampai lampu rumah sebelah sudah mati, suara itu terus terdengar hingga membuat kepalaku pusing.

Aku Mikaila, kelas XI, anak terakhir dari dua bersaudara. Aku punya ayah, seorang penenun sarung. 

Teman-temanku di sekolah, ayahnya kerja kantoran. Paling banter kerja di pabrik, pakai mesin canggih dan sepi. Namun di sisi lain, Ayahku masih setia dengan kayu, paku, dan benang. Ah, kuno sekali.

Aku paling benci saat hari libur, karena di situlah aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tidak bisa mengajak teman main ke rumah karena rumah kami berisik, dan itu membuatku malu.

“Ayah, istirahat sebentar, dong!” protesku sekali waktu. 

Ayah hanya melirik sekilas, lalu menenun kembali. Keringat bercucuran di pelipisnya yang hitam terbakar matahari. Tangannya tidak berhenti menarik benang.

“Ini suara rezekimu, Nak,” katanya. “Dengarkan baik-baik.” 

Aku hanya mendengus kesal. Buatku, itu bukan suara rezeki. Itu suara malu.

Dua bulan setelah itu, tangan ayah remuk. Benang yang ketegangannya terlalu kencang putus. Ujungnya menusuk dalam ke telapak tangan Ayah. 

Dokter hanya bilang satu kalimat, “Stop kerja dua bulan. Kalau dipaksa, tangannya bisa cacat permanen.” 

Dunia aku runtuh hari itu. Dua bulan berarti benang di rumah kami putus. Benang rezeki putus. Benang mimpi aku juga putus. Berarti uang daftar Lomba Esai Tingkat Nasional aku gugur. Berarti mimpi aku membawa nama sekolah ke Jakarta mati.

Malam itu tidak ada lagi suara itu sama sekali. Rumah kami senyap seperti rumah kosong. 

Pukul 03.00 pagi aku bangun. Aku tak sengaja melihat Ayah duduk di depan alat tenun yang patah itu. 

Tangan kanannya dibalut perban berlapis-lapis. Tangan kirinya gemetar menarik benang, pelan. Satu-satu. Keringat dingin bercucuran di pelipis Ayah yang pucat. Napasnya terasa berat, tapi mulutnya komat-kamit, seperti sedang berdoa. 

Di lantai, ada kain putih setengah jadi. Ada bercak merah di ujungnya. Itu darah Ayah. 

“Ayah...!” Suaraku nyangkut di tenggorokan. 

Ayah kaget, menoleh. Matanya sembab. “Aila, kok bangun, Nak?” 

“Katanya istirahat! Dokter bilang tangan Ayah bisa cacat!” Aku berlari, menarik tangan Ayah. 

Ayah menahan sakit, senyumnya dipaksa. 

“Ini sarung terakhir, Nak.” Suaranya serak seperti kertas digesek. 

“Satu helai ini untuk bayar pendaftaran lomba esaimu. Benang ini. Benang hidupmu.” 

Tanganku lemas. Dadaku sesak mendengar hal itu. 

Baru malam itu aku mengerti. 

Suara yang dulu aku sebut suara malu, ternyata itu suara Ayah yang menahan sakit demi aku tidak putus sekolah. 

Tek itu SPP. Tek itu uang jajan. Tek itu doa Ayah yang tidak pernah putus, walau tangannya sudah berdarah. 

Aku menangis dalam pelukan Ayah. Bau benang, bau darah, bau keringat Ayah, bercampur jadi satu. 

Aku yang kusut, bukan benangnya.


***


Dua minggu setelah itu, rumah kami kembali senyap. Tidak ada suara tek tek tek itu lagi. 

Tapi tiap subuh, aku selalu melihat Ayah menyelinap ke depan. Duduk. Tangan kirinya saja yang bekerja. Pelan. Sabar. Keringatnya kembali menetes ke benang. Sampai akhirnya, sarung terakhir itu jadi. 

Motifnya beda dari kain yang lain. Di tengahnya, Ayah menenun gambar pena yang ditusuk benang. Kusut, tapi utuh. 

“Nih, buat anak Ayah,” katanya. 

Napasnya masih ngos-ngosan. “Biar katamu setajam jarum tenun. Biar kamu ingat, dari mana kamu ditenun.”


***


Satu minggu kemudian aku ke Jakarta naik bus. Di pangkuanku, sarung lipatan itu. Wanginya kapur barus dan keringat Ayah masih menempel di sarung itu. 

Aku malu. Masa cewek membawa sarung ke hotel lomba? Teman-teman membawa koper, membawa jas. Aku malah membawa sarung. Tapi aku tidak membuang sarung itu.

Hari H lomba esai, temanya “Jejak”. 

Aku menulis. Tanganku gemetar. Yang aku tulis bukan soal teori. Yang aku tulis adalah Ayah. Tek-nya, darahnya di benang, kalimat Ayah: “Benang ini hidupmu.”

Selesai lomba, 10 besar diumumkan malam itu di hotel. 

“Juara 1... Mikaila As-Syifa Putri, dari SMA Nurul Jadid Batang-Batang.” 

Kakiku gemetar. Mataku berkaca-kaca. Aku berjalan ke panggung dengan rasa tidak percaya. 

Di tengah sorotan lampu, aku membuka tas. Aku membentangkan sarung itu, dan aku menyelendangkannya di bahuku. Kasar. Motifnya tidak simetris. Ada bercak merah pudar di pojok. 

Aula seketika ramai dengan suara bisik-bisik. MC bingung, kemudian berkata,

“Boleh dijelaskan, Nak?” 

Mikrofon dingin di tanganku. Kali ini aku tidak menunduk. Aku tidak malu. 

“Maaf, Bu. Ini bukan selendang pesta,” suaraku pecah. 

“Ini sarung, tenunan Ayah saya. Empat belas hari satu helai. Tangan kanannya remuk karena alat tenun, tapi dia tetap menenun pakai tangan kirinya, biar saya bisa ada di sini.” 

Aku menarik napas sejenak. “Tiap tek alat tenun itu, Ayah menyebut nama saya. Tek itu SPP saya. Tek itu ongkos saya ke sini. Dulu saya benci suara itu karena saya pikir itu suara malu.” 

Aku memegang erat sarungnya. “Ternyata... itu suara paling kaya yang pernah saya punya.” 

Hening selama tiga detik. 

“Terus...! “

Riuh dengan suara tepuk tangan. Bukan tepuk tangan basa-basi. Tapi tepuk tangan yang berdiri. Guru-guru, juri, peserta lain, semuanya berdiri. Mata mereka semua berair. 

Juri utama maju, memelukku, berbisik di telingaku, “Kamu tidak hanya menang lomba, Nak. Kamu memenangkan hatinya.”


***


Kini, di atas meja belajarku, sarung itu aku pigura tepat di sebelah foto Ayah. Tangan kanannya masih dibalut, namun senyumnya tetap terukir. 

Aku sudah tidak lagi menutup telinga ketika mendengar suara tek tek tek itu lagi dari depan rumah.

Sekarang aku paham. Ayah sedari dulu sudah menenun hidupku dari benang yang kusut. Awalnya berisik, menyakitkan, bikin malu. Tapi kalau ada yang sabar menenun pelan-pelan, pakai darah, pakai air mata. 

Ternyata hasilnya bisa menjadi hal paling aku banggakan di dunia. 

Dan Ayahku, dia yang menenunku, sehelai demi sehelai, dari kusut menjadi berarti.





Profil Penulis :

Maratul Maufiro, adalah siswi kelas 11-A SMA Nurul Jadid yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kepenulisan.   Meski belum menerbitkan karya secara resmi, ia telah menulis sebuah novel, merancang alternate universe, serta aktif membuat cerpen, pantun, dan karya sastra lainnya. Bagi dia, menulis adalah cara untuk menuangkan imajinasi dan memahami perasaan sendiri maupun orang lain. Ia berharap suatu saat nanti karya-karyanya bisa dibaca dan dinikmati lebih banyak orang.



 

Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.