Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

BAYANGKAN KIAI SAHNAWI MUDAH TERSINGGUNG (Esai Edy Hermawan, S.Sos., Gr)

Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (01 September 2026) 

Jujur saja, saya sangat senang mendengarkan kisah atau cerita. Kalau ada orang berkisah, apapun itu, saya akan memilih diam dan menyimaknya. Dalam kisah, saya menemukan kehidupan yang utuh dan penuh makna, bukan sekadar perjalanan hidup seseorang, apalagi hanya hiburan.

Entah apa sebabnya, tapi saya menduga kuat, ini faktor pola asuh orang tua, khususnya bapak saya. Bapak, setiap habis magrib hingga isyak, meminta saya, adik, dan emak berkumpul di teras rumah. Beliau akan berkisah banyak hal, mulai dari kisah para nabi, sahabat, ulama, kiai, hingga fabel. Ketika kisah selesai, beliau akan bertanya atau langsung menjelaskan hikmah dan spirit dari kisah itu.

Selain itu, pada akhirnya, saya juga sangat senang berkisah. Kalau saya tidak punya teman berkisah, maka saya akan menumpahkannya dalam tulisan atau catatan harian. Sedikit pamer, saya sudah membuat catatan harian sejak madrasah tsanawiyah hingga saat ini. Jadi, orang-orang yang pernah bersinggungan dengan saya maka akan terabadikan dalam catatan harian saya.

Kali ini, dalam tulisan ini, saya akan berkisah tentang Kiai Sahnawi bin Zainal Arifin dalam satu peristiwa. Namun, saya mendapatkan kisah ini bukan dari bapak saya, melainkan dari putra beliau; Kiai Darwies Maszar, tepatnya saat kami berkumpul pada malam Ahad di dhelem timur.

Malam itu, Kiai Darwies berkisah, bahwa suatu ketika ada seseorang yang datang bertamu kepada Kiai Sahnawi. Seorang lelaki. Seperti biasa, Kiai Sahnawi menyambutnya sebagaimana menyambut tamu-tamu yang lain. Beliau mempersilakan tamu itu duduk, lalu menghidangkan suguhan ala kadarnya.

Sebagai seorang kiai dan ditokohkan, ada saja pertanyaan atau keperluan yang disampaikan dan dihaturkan kepada Kiai Sahnawi. Lazimnya, para tamu menghaturkan pertanyaan tentang hal-hal berkaitan dengan agama, atau hukum agama, atau hal-hal lain seperti mau mondokin anaknya ke mana dan amalan apa yang bisa diamalkan agar hidupnya berkah. 

Namun, tamu lelaki saat itu berbeda dengan tamu-tamu yang lain. Tamu itu meminta angka togel (sejenis judi) yang akan keluar sehingga dia menang dan dapat uang banyak. Sekali lagi, tamu itu bertanya angka togel, bukan hukum togel haram atau halal.

Tanpa banyak komentar, Kiai Sahnawi memberikan angka togel pada tamu itu. Bahkan beliau sama sekali tidak menceramahinya bahwa togel itu judi dan hukumnya haram, melainkan memberikannya begitu saja. 

Tamu itu ragu dan Kiai Sahnawi memahami keraguannya. Beliau pun meyakinkan bahwa itu angka togel yang akan membawanya pada keberuntungan. Namun, sebelum itu, beliau sudah menegaskan bahwa beliau akan memberikan angka togel itu dengan syarat tamu itu harus kembali lagi baik menang atau kalah. Tamu itu sepakat mengiyakan.

Benar saja, beberapa hari kemudian tamu itu kembali lagi. Tamu itu bertutur dengan sangat gembira bahwa angka togel yang diperolehnya tempo hari jebol alias menang. Tamu itu mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Kiai Sahnawi dan beliau menghargainya.

Tanpa sungkan, tamu itu meminta angka togel lagi. Menurutnya, kalau angka kali ini jebol lagi maka tamu itu akan mendapatkan uang lebih banyak dari sebelumnya. Seperti sebelumnya, tanpa ragu, Kiai Sahnawi memberikan angka togel lagi. Namun kali ini, sebelum angka togel itu diberikan, azan zuhur berkumandang sehingga Kiai Sahnawi mengajak tamu itu shalat berjamaah terlebih dahulu. Kiai Sahnawi juga meminta tamu itu kembali lagi baik angka itu jebol atau tidak.

Tamu itu mengiyakan, namun dia jujur bahwa dia tidak mengerti dan tidak bisa shalat. Dengan jelas Kiai Sahnawi berkata, bahwa tamu itu cukup ikuti saja apa yang dilakukan beliau nanti saat jadi imam. Alhasil, tamu itu berkenan ikut shalat berjamaah bersama beliau.

Kejadian itu terus berlanjut dan berulang berkali-kali hingga tamu itu menjadi sangat dekat dan akrab dengan Kiai Sahnawi. Nah, saat tamu itu sudah cukup akrab begitu, Kiai Sahnawi baru menjelaskan tentang agama Islam, termasuk hukum togel. Beliau juga mengajarkan tata cara beribadah. Hingga di akhir cerita, tamu itu berhenti bermain togel dan taat beribadah.

Lalu, apa pesan menarik dari kisah itu? Bagi yang membacanya sepintas lalu saja, saya yakin sudah mendapatkannya. Pesan dari kisah itu cukup lugas dan jelas. Namun, saya coba berbagi pesan atau spirit yang saya dapat dari kisah itu.

Bagi saya, sikap Kiai Sahnawi sangat luwes dan bijak. Sebagai kiai atau pemuka agama Islam, beliau memiliki kematangan spiritual yang sangat mumpuni. Beliau sangat paham strategi dakwah yang efektif sehingga tidak membuat ummat lari menjauh.

Tapi, ada satu poin penting yang menandai kematangan spiritual beliau yang pantas diteladani. Beliau tidak mudah “tersinggung”. Bayangkan saja, seorang kiai yang notabene ditokohkan oleh masyarakat, yang lazim obrolannya hal-hal yang positif, bahkan tokoh agama pula, mendapatkan tamu yang menyuguhkan sesuatu yang jelas haram menurut hukum agama. Ibaratnya, tamu itu menyuguhi kotoran sapi kepada Kiai Sahnawi. Tapi apa yang beliau lakukan, beliau menerimanya dengan ramah dan santun sehingga tamu itu tidak merasa dihakimi, tapi tetap merasa diayomi.

Bayangkan seandainya Kiai Sahnawi mudah tersinggung. Mungkin beliau akan bermuka masam saat tamu itu menuturkan maksud dan tujuannya bertamu, bahkan beliau akan menganggap atau mengatakan itu penghinaan berat terhadap kekiaiannya atau dirinya sebagai pemuka agama Islam. Mungkin juga beliau akan marah-marah dan mengusirnya untuk segera pergi dari dhelem-nya. Kemudian, beliau memusuhinya atau membatasi komunikasi dan interaksi dengan tamu itu. Nyatanya, Kiai Sahnawi tidak tersinggung. Beliau tidak melakukan semua itu. Beliau tetap berwajah ramah. Bahkan membuka ruang komunikasi dan interaksi yang lebih luas sehingga tamu itu bisa dirangkul dengan ajaran agama Islam yang benar. Ini metode dakwah amar makruf nahi mungkar yang sangat lembut, sopan,dan santun.

Maka, bayangkan juga kalau Kiai Sahnawi mudah tersinggung, apa yang akan terjadi pada tamu itu? Tamu itu sangat mungkin akan menjauh, bahkan menimbulkan keretakan komunikasi dan interaksi atau silaturrahmi sehingga dakwah tidak dapat berjalan efektif. Bahkan, tamu itu akan menjadi lebih buruk, bukan karena ajaran Islam, tapi cara dakwah yang salah,  kaku, kasar, dan cenderung menghakimi.

Kematangan atau kedewasaan spiritual ini tentu didukung oleh banyak hal. Di antaranya, Kiai Sahnawi sebagai kiai sangat mungkin tidak merasa istimewa sehingga tidak menuntut orang-orang harus memperlakukan beliau dengan istimewa, hormat, santun, dan sopan; Kiai Sahnawi sebagai kiai juga tidak merasa suci sehingga orang-orang yang datang bertamu kepada beliau tidak dituntut suci dan sempurna, tidak boleh berkata kotor, berkata haram, melukai wibawa dan harga dirinya. 

Merasa istimewa dan suci itu tidak ada dalam diri Kiai Sahnawi sehingga beliau tetap berwajah teduh dan ramah kepada siapapun yang datang. Tidak peduli tamu yang datang itu membawa air zamzam atau comberan. Pun, tidak peduli tamu itu beraroma wangi surga atau bau hangus neraka. Beliau menerimanya dada terbuka.

Beliau tidak mudah tersinggung dengan hal-hal yang buruk, bahkan ketika disuguhi keburukan, beliau tidak lari mengasingkan diri karena takut kecipratan buruk dan kotor juga, namun beliau bertanggungjawab, menghadapi, dan memprosesnya hingga tuntas. Inilah spirit yang menjiwai gerakan dakwahnya. Hingga beliau mampu merangkul umat dalam pelukan Islam menembus batas-batas desa dan kecamatan, bahkan kabupaten.

Lebih dari itu, kisah Kiai Sahnawi menjelaskan pada kita bahwa menjadi kiai memang berat, tidak cukup hanya bisa tahlilan ataupun mampu baca kitab kuning, tapi butuh kematangan spiritual. Mampu menanggalkan ego demi kepentingan umat. Bukan hanya mampu berpikir dan berhati terbuka, tapi juga mampu bersikap dan berperilaku terbuka, terutama dalam komunikasi dan interaksi. Kalau mudah tersinggung, mudah baper, mudah mengeluh, mudah menyalahkan orang lain, tak mau bertanggungjawab, dan tidak selesai dengan dirinya sendiri, maka berpikirlah ulang untuk mengidentifikasi diri sebagai kiai, nyai, gus, lora, ataupun neng. Identifikasi diri yang keliru hanyalah membuahkan ilusi diri yang rapuh, bahkan berdampak buruk pada umat.

Meminjam istilah Gramsci, kita bisa membagi kiai menjadi Kiai Tradisional dan Kiai Organik. Kiai tradisional cenderung hanya menjadi teknisi agama; memimpin ritual-ritual keagamaan dan pro status quo. Sedangkan, Kiai organik merupakan kiai yang mau berdiri untuk umat, menjadi penggerak dan pemimpin perubahan, serta melakukan transformasi sosial umat menuju masyarakat madani. Kita dapat memasukkan Kiai Sahnawi sebagai Kiai Organik di tengah masyarakatnya berdasarkan kisah itu dan jejak-jejak perjuangan dakwahnya.

Sebagai bagian dari Nurul Jadid, sampai di sini, kita patut bertanya dan mengevaluasi diri: sudah sejauh mana kita menyerap dan mengaktualisasi spirit dakwah Kiai Sahnawi sebagai pribadi maupun diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan kelembagaan? Sudah sampai mana skala dakwah kita? 

Detailnya, apakah kita mampu merasa tidak terlalu istimewa dan suci di tengah masyarakat sehingga kita bukan hanya luwes menerima siapapun yang datang? Tapi juga rendah hati belajar dari siapapun sehingga membuat kita berkembang, tidak terasing, atau sekadar bergerak sekadarnya tanpa mau menanggung risiko? Saya pribadi tak punya jawaban, tapi untuk menemukan jawabannya, mari kita berendah hati, kita harus berani jujur mengevaluasi diri, bahkan meminta dan menerima evaluasi orang lain dengan dada terbuka atau “adede saghere”.

Taqobbalallah minna wa mingkum. Anta maksudi wa ridhaka mathlubi. Aamiin. 

Lahul Fatihah.



Penulis :



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.