Cerpen Atiqotul Farhah & Edy Hermawan, S.Sos. Gr, (01 September 2026)
Kalau kamu kebetulan mau berwisata ke Pantai Lombang dan singgah di Batang Batang, tepatnya di simpang tiga Lapangan Batang Batang untuk sekadar membeli minuman melepas dahaga, lalu bertemu seorang gadis mengenakan jaket hoodie abu-abu, kepalanya ditutup. Wajahnya bulat. Alis lebih tebal dari biasanya. Bermata almond dengan sorot tajam berkilau bak mutiara. Aku pastikan gadis itu yang aku maksud.
Kalau kamu juga sedikit beruntung, lepaslah pandang padanya. Ia akan menarik sedikit dua sudut bibirnya. Tersenyum simpul. Tanpa menanggalkan pandang juga padamu. Lalu, kamu tidak akan pernah sanggup membuang gadis itu lagi dari ingatanmu.
Gadis itu luar biasa. Ia tak pernah mundur menaklukkan gelombang dan badai hidupnya, meski harus berjalan dan menapaki tandusnya kasih sayang. Ia sendirian sekalipun banyak orang mengitarinya.
Tapi ia bukan gadis lemah. Ia tahu cara berdamai dan menundukkan segalanya, meski beberapa kali dihujam kegetiran dan putus asa. Aku pikir, aku, juga kamu, harus menyelami hidupnya, belajar tentang harapan dan ketangguhan. Hingga kita sadar, bahwa kita tak boleh tunduk di kaki kekalahan atau pongah berbaju keberhasilan.
***
Sejak hari itu, Jumat, Gadis Hoodie sudah ditantang takdirnya. Ia lahir, tumbuh mekar tanpa dekapan hangat seorang ibu, apalagi bapak. Bukan tidak punya ibu, ia punya banyak ibu dan bapak. Bahkan, ke arah mana melangkah, ia dapat memanggil ibu dan bapak, meski tak mengeram kehangatan di dadanya ketika dingin menusuk-nusuk tubuh mungilnya.
Setiap hari, bayi imut nan mungil, Gadis Hoodie, pindah dari satu gendongan ke gendongan yang lain, dari satu rumah ke rumah yang lain, serupa bola yang dioper ke sana-sini hanya demi gol kemenangan pemainnya tanpa peduli retak remuk bola yang ditendang. Ia tak punya tempat menetap, meski ia juga tak dapat disebut dibuang.
“Biarlah bayi ini saya yang bawa. Saya sangat ingin bayi perempuan.” Sepasang suami istri memohon. Bayi itu, Gadis Hoodie, akan dijadikan kail pancing agar anak perempuan lahir dari rahim mereka. Selama ini, anak yang lahir dari rahim pasutri itu hanya seorang laki-laki, tiga anak. Mereka sangat mengimpikan anak gadis.
“Hari ini biarlah bayi ini di rumah. Saya kesepian. Di rumah tidak ada bayi atau anak-anak,” pinta tetangga yang lain.
Di lain waktu, seorang ibu tergopoh-gopoh menyerahkan bayi itu kepada tetangganya yang lain. Ibu itu sibuk dengan acara yang dadakan. Ia juga tak mungkin membawa serta bayi itu.
Bayi itu, Gadis Hoodie, hanya menatap yang tentu tak mengerti. Menangis. Diayun dan diam lagi. Matanya memang tak tampak sendu, tapi entahlah andai aku dan kamu mengerti jiwanya.
Kemarin, Gadis Hoodie berbisik di dekat telingaku dan aku gemetar mendengarnya. Aku yakin, kamu yang mendengar juga akan merasakan hal yang sama.
“Saya memanggil bapak dan ibu kepada banyak orang. Karena, memang banyak orang bergantian merawat saya. Ibu saya sibuk bekerja. Saya sering ditinggal pergi,” bisiknya.
Saat mendengar itu, ada sesak di dada ini dan mataku berkaca-kaca. Hanya saja aku sendiri malu menumpahkannya, sebab Gadis Hoodie itu tetap tegak kuat menatap bergeming dengan terjal jalan hidupnya. Ia kuat menutupi luka. Memanipulasinya dengan keceriaan. Meski aku melihat mata almond itu juga berkaca-kaca dengan kilatan kegetiran di balik senyumnya yang rekah.
***
Usia Gadis Hoodie baru delapan tahun. Ia baru mulai mengerti tentang kehidupan. Ia butuh ibu yang selalu ada dan mencurahkan kasih sayang. Butuh ayah yang selalu dekat dan menguatkan. Ia juga baru tahu bahwa dirinya butuh rumah untuk berteduh dan tangan untuk digandeng serta menuntun.
Gadis itu baru menatap masa depan, merajut mimpi dan menata langkah. Ia berharap semua ada pada ibu dan bapaknya. Tapi, malam itu, malam Sabtu, ia tak sanggup menahan pilu. Semua menguap begitu saja.
“Hoodie, bersiaplah. Kita akan mengunjungi bapakmu.” Kakak ipar Gadis Hoodie, salah seorang yang kadang juga membersamainya selama ini tiba-tiba datang, lalu mengajaknya menemui orang yang sangat diharapkan selalu ada di dekatnya, bapaknya.
Gadis Hoodie tak bertanya lagi. Ia segera mandi dan berpakaian. Di benaknya, ia akan menumpahkan rindu pada bapaknya, sosok yang hanya bisa ditemui tidak lebih dua jam, dua hingga tiga kali dalam sepekan, pada malam hari. Kadang, ia juga harus menaklukkan kantuk demi bersama bapaknya, meski harus menunggu hingga pukul sepuluh malam. Gadis Hoodie hanya ingin dibelai rambutnya dan tidur di pangkuan bapaknya. Apalagi, sudah berbilang bulan bapaknya tidak pulang.
Ya, hanya dua jam Gadis Hoodie dapat bersama bapaknya. Setelah itu, ia tidak tahu sosok itu pergi ke mana. Hanya saja ia pernah mendengar, bapaknya punya dua keluarga. Kemudian, ia tak peduli lagi dengan itu. Gadis Hoodie hanya selalu memanjatkan harap, semoga ia dapat bersama bapaknya lebih lama dari dua jam.
Tiba di sana, Gadis Hoodie menghamburkan diri ke dalam rumah itu begitu saja. Di luar ramai, begitu juga di dalam ruangan itu. Ia ingin menjatuhkan diri dan mendekap sosok tubuh yang ada di hadapannya, tapi seseorang segera menahan. Ia memaksa, tapi tenaga gadis itu tak mampu meski sekadar memadani. Mulanya, hanya satu orang, tapi kemudian, dua orang, tiga orang, dan tak terhitung. Mereka mendekat dan memegang Gadis Hoodie kuat-kuat. Gadis Hoodie tak kuasa dan mengalah.
Gadis Hoodie duduk bersimpuh. Di hadapannya sosok tubuh terbujur kaku. Seluruh tubuhnya ditutupi kain berwarna putih dengan motif khas klasik. Kemudian, seseorang datang membuka kain yang menutupi sekujur tubuh itu pada bagian atasnya. Tampak wajah pucat dengan bibir kaku. Gadis Hoodie ingat, bagaimana ia berharap cahaya dari bibir itu melumurinya. Tapi kini ia tak bergerak, pucat merapat. Tangannya pun kaku bersedekap.
Mata almond yang sejak tadi sudah terasa hangat kian menjadi-jadi. Keluar butiran cair hangat memburai ke pipinya. Deras. Serupa rindunya pada bapaknya. Ia tak sanggup mengelap. Dibiarkan saja. Dadanya sesak.
“Ayahmu sudah tiada. Ia sudah ke surga.” Seseorang berucap. Gadis itu acuh. Di benaknya, tergambar bagaimana ia akan menyeberangi lautan derita hidupnya. Menaklukkan gelombang dan menembus badai berkabut. Padahal, dua kaki dan tangannya masih kecil nan rapuh.
Harapan-harapannya yang baru tumbuh tumbang seketika. Bapak Gadis Hoodie sudah pergi sebelum rindu kebersamaan itu terbayar. Bahkan Gadis Hoodie belum sempat merasakan tidur bersama bapak dan ibunya dalam satu ranjang, menikmati kehangatan dan cerita-cerita indah mereka. Sesekali dikecupi kening dan dibelai rambutnya. Dan sekarang, semua itu akan ikut terkubur bersama sosok tubuh di hadapannya.
“Kamu tak perlu menangis. Kamu kan ingin warisan saja. Tidak perlu pura-pura. Bukankah kamu senang sekarang?”
Suara itu tiba-tiba menggempur telinganya. Duka di dadanya kian bertambah, berlipat-lipat. Entah suara siapa, ia tak mengenalinya.
Gadis Hoodie bergeming. Sesak di dadanya ia tahan sekuat-kuatnya. Ia sadar kehadirannya memang tak diharapkan. Ia dianggap benalu dalam keluarga bapaknya yang pertama.
***
“Bu, pisang keju hari ini hanya laku sepotong,” kata Gadis Hoodie pada ibunya seraya menyerahkan baskom berisi pisang keju berbungkus plastik. Gadis Hoodie belum melepas tas dan seragam sekolahnya. Ia juga masih menahan haus sebab berjalan kaki di bawah terik sekitar satu kilometer dari sekolah ke rumahnya.
Ini sudah yang kesekian kalinya, jualan pisang keju Gadis Hoodie hanya laku sepotong. Padahal ini usaha keluarganya untuk menutupi kebutuhan harian, termasuk uang saku Gadis Hoodie.
Pisang keju dibuat oleh ibunya, dititip ke warung-warung. Gadis Hoodie pun mendapat bagian, ia harus membawa pisang keju ke sekolahnya untuk dititip di warung sekolah.
Usaha ini jalan akhir setelah bapak Gadis Hoodie mangkat. Sebagian tumpuan ekonominya susut. Saat tidak laku seperti kali ini, sudah pasti tekor modalnya.
“Bu, besok tidak usah dititip di warung sekolah. Biar Hoodie yang jual di depan kelas.” Ia tahu bagaimana kabut kelabu membukus wajah ibunya saat pisang keju itu tak laku. Sebabnya, Gadis Hoodie memilih menjual sendiri pisang keju itu. Meski ibunya tak memintanya, tapi ia mengerti.
Sebenarnya, Gadis Hoodie menyimpan duga, tapi ia merasa belum waktunya ibunya tahu. Saat di sekolah, waktu istirahat, Gadis Hoodie sempat mendatangi warung tempat menitip pisang kejunya. Tapi ia tak melihat pisang keju yang dititipnya di gelar di depan seperti jajanan yang lain. Ia heran, di manakah pisang keju itu diletakkan.
Saat Gadis Hoodie pulang, ia segera mengambil titipan pisang kejunya di warung itu. Tak perlu menunggu lama, baskom berbungkus plastik putih itu disodorkan kepadanya.
“Hanya laku satu. Uangnya di dalam,” ucap pemilik warung itu sembari pamit beres-beres untuk segera pulang.
Gadis Hoodie menerimanya. Ia tertegun. Ia menduga, ada yang tidak beres dengan jualannya. Tapi ia memilih pulang, sebab ia hanya anak kecil yang kurang beruntung.
Jualan pisang keju tidak dapat disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan Gadis Hoodie dan ibunya. Bahkan, berjalan mundur. Ibunya mengambil jalan lain, ia pergi ke Jakarta.
Saat itu Gadis Hoodie harus rela tidak menikmati masa libur sekolah. Bila temannya yang lain liburan, Gadis Hoodie harus menyertai ibunya ke Jakarta. Ia harus jaga warung. Bila ibunya berjaga siang hari, ia berjaga malam hari. Biasanya, habis isya hingga pukul satu malam. Dan, tidur sebentar hingga subuh. Kemudian dibangunkan lagi karena ibunya harus belanja agar stok barang tetap terjaga, setidaknya ia berjaga hingga pukul dua belas siangi.
Saat itu Gadis Hoodie masih duduk di sekolah dasar. Tapi ia sudah harus bertarung melawan waktu, meninggalkan masa-masa bermain demi rupiah dan sesuap nasi bersama ibunya. Dan, hanya dengan begitu ia dapat tinggal dan tidur bersama ibunya, bila tidak ia akan berlabuh pada orang lain yang dipanggil ibu dan bapak juga oleh Gadis Hoodie. Ibunya sibuk bekerja, sedangkan ia dititipkan.
Gadis Hoodie telah kehilangan satu sayap dalam keluarganya, serupa orang kehilangan satu kakinya. Pincang. Sepertinya memang tidak ada pengganti, ia sendiri yang harus tegak kuat sebagai penggantinya. Tapi ia masih belia, baru delapan tahun.
***
Gadis Hoodie sudah berkali-kali minta pulang ke rumahnya, meski sebenarnya rumah itu pun bukan rumahnya sendiri, rumah kakaknya. Tapi ia selalu ditahan oleh orang yang selama ini menampungnya saat ibunya pergi.
Pernah, saat itu Gadis Hoodie butuh baju sekolah. Ia berniat pulang mengambil, tapi ia dicegah. Bapak ibu angkatnya yang pergi mengambilnya.
Gadis Hoodie menaruh curiga. Apalagi, kian hari ibunya juga tak kunjung menjenguknya, padahal jarak rumah antara rumah ibu angkat dan rumah kakak tidak terlalu jauh, hanya butuh sepuluh menit ditempuh dengan jalan kaki.
“Ibu ke mana? Kok tidak terlihat ke sini sama sekali?”
“Lagi ke Lenteng,” jawab ibu angkatnya datar.
Gadis Hoodie berpikir, kenapa ibu tidak pamit. Biasanya, meski Gadis Hoodie tidak tinggal bersama ibunya, beliau selalu bilang kepadanya saat hendak bepergian agak lama.
Diam-diam Gadis Hoodie ingin pulang. Ia rindu ibunya. Ia sudah menyiapkan bahan protes kepada ibunya: kenapa beliau tidak pamitan. Gadis Hoodie menyelinap dari pengawasan ibu angkatnya.
Benar saja, tiba di sana, ibunya tidak di rumah. Ia tidak menemukan siapa-siapa. Ia teriak memanggil-manggil, tapi tak ada jawaban. Gadis Hoodie menunggu dan menunggu. Satu jam, dua jam, tiga jam, ibunya juga belum muncul. Gadis Hoodie menangis sejadi-jadinya. Rindu pada ibunya meletup-letup dan menguap jadi air mata. Gadis Hoodie berbalik kembali ke rumah ibu angkatnya bersama seluruh airmata dan kerinduannya.
Meski ia biasa ditinggal ibunya, tapi ia tetap menyimpan rindu. Ia tetap tak bisa untuk tak melihat ibunya dalam sehari, atau menelepon bila jarak terlalu jauh. Kali ini, ibunya tidak pernah terlihat, bahkan menelepon juga tidak dan Gadis Hoodie tak diizinkan juga untuk menelepon.
Namun, saat Gadis Hoodie sedang bermain pasir, melepas kejenuhan rindu yang kian menggunung tapi tak kunjung terbayar, tiba-tiba kakaknya datang menghampiri.
“Kamu mau bertemu ibumu?”
Seketika Gadis Hoodie mengiyakan. Gegas ia mendekat, menyambut penuh ajakan itu. Mata almond itu tiba-tiba tak berawan mendung lagi. Berbinar cerah, serupa cahaya melumurinya.
“Tapi kamu tidak boleh menceritakan apa-apa kepada orang-orang.” Kakaknya mengajukan syarat. Gadis Hoodie tak membantah. Demi melepas rindu pada ibunya, ia tak membantah meski sekadar sepatah kata.
“Iya,” ucapnya dengan mata nanar berair.
Selang tak berapa lama, seseorang datang menghampiri mereka berdua, menanyakan keberadaan ibu Gadis Hoodie. Gadis Hoodie terkesiap, siapa orang itu dan ada keperluan apa kepada ibunya.
Orang itu dibawa ke rumah kakaknya. Gadis Hoodie mengekor, mengikuti kakak dan orang itu. Ia tak sepenuhnya mengerti. Percakapan apa saja yang terjadi di antara dua orang di depannya.
Hanya saja Gadis Hoodie sedikit mengerti, bahwa ibunya diduga terlibat kasus skandal pembunuhan seorang suami oleh istrinya sendiri. Sekarang ibunya sedang diasingkan, bahkan terancam mendekam di balik jeruji besi.
Ia juga mulai mengerti, mengapa ia tak bisa bertemu ibunya. Bahkan, kakaknya pun membatalkan rencana pertemuannya dengan ibunya hari itu. Tentu, Gadis Hoodie amat sedih, bapaknya pergi dan kini ibunya diasingkan darinya.
Bening di matanya kembali terurai. Hangat. Ia lari sekecang kilat, masuk ke ruangan kecil. Ia ingin memuaskan diri dengan tangis, juga berteriak sekeras-kerasnya. Meski sebenarnya kegetiran dan rindu pada ibunya tak mungkin juga tertuntaskan. Dan, ia pun tak tahu kapan bisa bertemu ibunya kembali.
***
Gadis Hoodie berjalan gontai. Mendung kelabu menyelimuti wajahnya. Ada sendu dan kegetiran yang mengeram dalam dadanya.
Ia melangkah, melaju, menapaki takdir yang menjadi jalannya.
Pagi itu, Gadis Hoodie berangkat ke sekolah. Sebenarnya, semangat hidupnya sudah sekarat, ia ingin ceritanya segera berakhir, meski harus berakhir dengan sangat menyedihkan.
Gadis Hoodie terus menapaki jalanan beraspal nan panas di bawah terik matahari itu. Ia menuju ke sekolah. Sepanjang jalan, banyak mata aneh menatapnya. Seperti ingin menerkam atau bahkan tak hirau.
Sekolah itu sudah tampak, tinggal beberapa meter lagi. Anak-anak berkumpul di gerbang. Sepertinya ada sesuatu yang sedang hendak mereka lakukan. Gadis Hoodie juga tidak mengerti, ada apa mereka berkumpul di dekat gerbang sekolah.
Gadis Hoodie menyalangkan pandang, lalu kembali menekuri jalan hidupnya. Kapan kegetiran itu akan segera berlalu.
Beberapa langkah lagi Gadis Hoodie akan tiba di gerbang sekolahnya. Tapi ia melihat keanehan pada tatap anak-anak yang berbaris itu. Tatapan sinis tak bersahabat.
“Anak pembunuh! Anak pembunuh! Anak pembunuh!”
Anak-anak itu kompak menyuarakan kalimat yang sama. Gadis Hoodie tertegun. Ia mematung. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan disambut dengan penghakiman seperti itu.
“Ibuku bukan pembunuh!” Gadis Hoodie berteriak. Berkali-kali. Sekeras-kerasnya. Tapi itu tak membuat anak-anak itu berhenti. Mereka terus meneriaki Gadis Hoodie sebagai anak pembunuh.
Dengan air mata yang sudah tak tau sederas apa, Gadis Hoodie lari ke dalam kelas. Ia duduk, meletakkan tas di depannya, dan menunduk menenggelamkan wajahnya. Sesekali mengelap air mata itu.
“Ibuku bukan pembunuh,” desisnya sesenggukan.
Gadis Hoodie mulai paham tatapan aneh yang menyergapnya di sepanjang jalanan menuju sekolah. Tatapan itu tatapan penghakiman. Tatapan perundungan pada dirinya.
Kejadian kemarin juga masih lekat di benaknya, ketika ia sedang bermain beberapa ibu-ibu bertanya tentang keberadaan ibunya. Pertanyaan-pertanyaan itu sangat sarkastis, mengejek.
Gadis Hoodie tak bisa berbuat lebih banyak. Ia hanya bisa menangis atau lari ke rumah saat dirundung. Meski kadang, ada emaknya yang membela. Gadis Hoodie seperti tidak punya tempat, di mana ia berada selalu mendapat tatapan aneh penuh curiga.
***
Menjelang siang, tepat pada ulang tahun kemerdekaan republik ini, yang katanya sudah merdeka ketujuh sembilan, aku sempat bertemu dengan Gadis Hoodie. Tapi sayang, saat itu aku dan dia tak sempat berbincang banyak. Seperti biasa, dia hanya duduk di sampingku, sedangkan aku menekurinya. Berusaha mengerti gumpalan gelap yang bersarang di dadanya.
Sekarang, besok, lusa, atau kapanpun kamu bertemu dengan Gadis Hoodie, aku titip salam padanya. Katakan juga, namanya sudah aku catat di atas sajadahku, aku babar di setiap tengadahku, dan aku zikirkan pada setiap putaran tasbihku. Semoga Tuhan merengkuhnya.


0 Komentar