Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

TELUR AYAM SEBELUM FAJAR (Cerpen Edy Hermawan, S.Sos, Gr)

Cerpen Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (12 September 2026) 


Kepercayaan lahir dari rahim ketakutan. Takut pada kehilangan; takut pada perpisahan; takut pada penderitaan. Terlebih, saat kamu sedang disekap takut pada kematian. Kemudian, kamu akan percaya dan melakukan apa saja agar terhindar dari ketakutan itu.

Kamu tentu juga sudah pernah mendengar, kematian adalah kepastian sehingga ketakutan menjadi sesuatu yang tak bermakna. Benar, tapi sebagian orang, mungkin juga kamu, tetap takut dan ngeri meski sekadar mendengar kabar tentang kematian.

Coba kamu bayangkan, ketika ketakutan pada kehilangan dan perpisahan bersarang dalam dirimu. Kamu takut kehilangan kekasihmu yang baru kamu lamar satu bulan yang lalu; kamu takut pada perpisahan bila kekasihmu meninggalkanmu. 

Maka, saat seperti itu, kamu akan percaya saja pada apapun yang dapat membuatmu terbebas dari ketakutan. Takut pada kehilangan atau takut pada perpisahan dengan kekasihmu. 

Seperti itu pula, keadaan yang menyeruak membauiku dari seorang lelaki yang duduk di sudut kamar itu. Memang baru dua hari ini lelaki itu duduk memeluk lututnya yang ditekuk. Sarung tua bermotif kotak-kotak menyelimuti tubuhnya. Bibirnya gemetar dengan mata gelap tertutup keputusasaan.

“Ada apa dengannya?” tanyaku pada perempuan itu, istrinya.

“Dia ketakutan,” jawabnya pendek.

Aku yakin, kamu juga pernah bertemu dengan orang seperti lelaki itu. Paling tidak orang-orang yang mirip dengan lelaki itu. Ada ketakutan yang mengeram dalam jiwanya.

Saat duduk di sebuah taman, kamu akan melihat seorang lelaki memanjakan perempuannya. Lelaki itu takut kehilangan perempuan itu. Saat kamu ke pasar, kamu akan melihat para pedagang menjajakan barang dagangannya. Mereka takut barang-barang dagangan itu tidak laku. Saat duduk di depan televisi menonton sepak bola, kamu melihat tim kompak menghadang bola, menyerang, menahan, atau mengumpan. Mereka takut gawangnya dibobol lawan.

Kamu mau protes dan mendebatku karena itu tidak sejalan dengan pikiranmu, silakan saja. Tapi itu tak perlu. Aku sudah tahu. Kamu pasti akan mengatakan bahwa apa yang kamu lihat tidak sama dengan lelaki yang aku ceritakan. Mereka yang kamu lihat hanya ketakutan, tapi tidak dicekik keputusasaan. 

Kalau memang begitu, kamu benar. Lelaki yang aku ceritakan tidak hanya memelihara ketakutan, tapi juga keputusasaan. Tapi, perlu kamu tahu, bukan soal ketakutan atau keputusasaan itu, melainkan bagaimana ketakutan dan keputusasaan itu bersarang dan mengerami jiwanya. Kemudian, dia percaya apa pun begitu saja, padahal itu hanya bualan orang-orang yang sedang menghibur diri.


***


Semula, lelaki itu hanya berkomentar pendek tentang kabar wabah yang menyerang negeri merah itu. Istrinya pun tak terlalu menggubris. Di samping tidak mengerti karena tak sempat mengikuti warta, dia juga sibuk mengasuh dan mengopeni dua anaknya.

“Negeri ini juga harus siap-siap,” kata lelaki itu pada istrinya saat sedang menyuapi anaknya yang bungsu.

Kamu tentu juga tahu, apa yang terjadi di negeri merah itu tidak hanya akan menjadi masalah nasional mereka, melainkan akan menjadi masalah dunia. Setiap negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, keluarga, hingga individu terancam oleh serangan wabah.

 “Apa dia terserang wabah?” tanyaku pada istrinya.

“Tidak. Setidaknya belum terbukti hingga saat ini. Tapi dia tak bisa menghindar dari serangan benda kotak bergambar di ruang tamu itu dan gawai yang ada di genggamannya,” jawabnya.

Aku tak menyangkal. Jangankan istrinya, aku sendiri menyadari itu. Setiap kali bertemu denganku, lelaki itu selalu membicarakan hal baru. Bahkan aku banyak tahu tentang banyak hal darinya, termasuk apa yang terjadi di negeri merah, sebelum wabah itu bertandang ke negeri ini.

 Menurut penuturan istrinya, keceriaannya mulai hilang sejak banyak orang, termasuk petinggi tanah negeri ini, merespons apa yang terjadi di negeri merah dengan kelakar. Dia lebih banyak diam. Duduk di ruang tamu menghadap kotak bergambar itu. Sering juga, dia telentang dengan gawai di tangannya hingga pagi hari tanpa lelap semenit pun.

“Apa lagi yang pernah dia katakan padamu?” tanyaku pada istrinya.

“Wabah itu sudah menyerang penduduk tanah ini. Korban terus berjatuhan. Setiap hari terus bertambah, baik yang tergigit atau yang meninggal. Tapi, penduduk hanya dicekoki kata-kata penenang dan perdebatan,” tuturnya. Kemudian dia menunduk sebelum melihat ke pintu kamar yang tertutup itu. Wajahnya menyiratkan kesenduan. Tatapannya berkabut kesedihan penuh ketidakmengertian, menembus pintu kamar di sisi kanannya, tempat suaminya didekap ketakutan. 

Aku diam menerka-nerka kalimatnya sembari menyeruput kopi yang sudah dihidangkan setengah jam lalu. Nikmat. Berbalik dengan keadaan rumah megah ini, penuh kegelisahan.

“Kami punya usaha kecil-kecilan, membuka toko kelontong di sebuah kota. Kami punya tiga toko yang dijaga tetangga-tetangga kami. Sekarang mereka minta pulang. Tidak ada yang mau menjaga, toko kami terpaksa akan ditutup,” cerita istri lelaki itu.

Menurutmu, apa yang harus aku katakan kepadanya, istri lelaki itu. Aku dan kamu tentu sudah paham. Meski hidup di kampung seperti kita ini, tetap sangat merasakan dampak ekonomi wabah itu. 

Kamu tahu sendiri, barang-barang di toko kelontong di samping rumahku sudah naik berkali-kali. Katanya, barang sudah langka. Sulit untuk didapat. Apalagi di kota. Kamu sudah lihat warta terakhir, rupiah makin menunduk tak bertenaga.

“Apa kita akan krisis seperti 98?” tanya istri lelaki itu tiba-tiba.

“Yang jelas, ekonomi dan kesehatan kita kritis, terlebih psikis kita. Dan, mungkin itu yang terjadi pada suamimu,” jawabku.

“Apa suamimu masih mau makan?” tanyaku.

“Masih. Tapi kadang-kadang,” jawabnya.

“Jauhkan dulu dia dari kotak bergambar di ruang tamu ini dan gawainya. Mungkin dia akan jadi lebih baik,” saranku.

“Akan kucoba saranmu,” jawabnya.

“Masih ada yang dikatakan suamimu?” tanyaku.

“Banyak. Dia sudah tahu apa yang dilakukan para petinggi. Menyiapkan tenaga medis untuk melayani korban. Menurunkan keamanan untuk mengondisikan penduduk. Silang sengkarut antara beberapa ilmuwan dan agamawan. Tapi, dia juga tahu kalau beberapa korban ditolak di beberapa rumah sakit hingga meninggal. Bahkan mayatnya, juga ditolak oleh warga untuk dikubur di lingkungannya,” tutur istri lelaki itu.

“Hem.” Aku mendehem mendengarkannya. Pikiranku berkeliaran ke sana kemari. Lelaki itu menampung semua kabar.

“Suamimu tak bisa berbuat apa-apa,” kataku pelan.

“Bukan hanya itu. Dia pernah berkata, ‘Mereka lamban dan langkahnya tak tepat’. Apa kamu mengerti maksudnya?” tanyanya, membuatku tertegun.

Tiba-tiba pintu di kamar itu terbuka. Lelaki itu keluar. Menatapku sebentar, kemudian berlalu ke kamar mandi di dekat dapur. Aku diam saja, tidak menegurnya. Begitu juga dengan dirinya. 

Selang beberapa menit, lelaki itu datang kembali tanpa menghiraukan kami yang sedang duduk di ruang tamu. Aku pikir lelaki itu akan mandi, tapi ternyata tidak. Kata istrinya, sudah dua hari ini dia tidak mandi. Pantas saja rambutnya acak-acakan dan auranya aur-auran.

Sebenarnya, aku sangat penasaran dengan apa yang bergelantungan di pikirannya dan mengeram di jiwanya. Tapi sayang, kata istrinya, untuk saat ini dia tidak mau bicara dengan siapa pun. Dia hanya ingin sendiri ditemani dengan gawai yang disandingnya.

Apa aku bisa menjelaskan tentang lelaki itu kepada istrinya yang juga kawanku ini? Apa aku bisa membantunya keluar dari cengkeraman ketakutan itu? Aku hanya tahu, jiwa lelaki itu sedang kritis lantaran keadaan yang kian sengkarut tidak karuan. Sementara lelaki itu sendiri tampak merasa tak berdaya.

Kalau kamu berada pada keadaan seperti lelaki itu, apa yang akan kamu lakukan? Simpan saja jawabanmu. Aku akan tuturkan beberapa kemungkinan; kamu akan kembali kepada Tuhan sebagai kepastian atau kamu akan percaya kepada apa saja yang datang kepadamu. Ya, hanya pada dua kemungkinan itu karena kamu tidak mungkin tidak memilih salah satunya, atau sangat mungkin kamu akan melakukan kedua-duanya.

“Apa kamu hendak mengatakan bahwa Tuhan lahir dari rahim ketakutan?” tanya seorang kawan kepadaku suatu waktu.

Kalau kamu memiliki pertanyaan seperti kawanku itu, aku katakan itu terlalu berlebihan. Kalau kamu takut pada wabah maka kamu akan menghindari wabah itu, tapi kalau kamu takut pada Tuhan, kamu akan mendekati-Nya dan percaya diri menghadapi wabah yang kamu takuti itu. Tapi yang paling penting, kamu harus tahu bagaimana kamu harus memercayai Tuhanmu sekaligus bagaimana mengahadapi wabah yang menakutkan itu.


***


Sebelum fajar terbit, istri lelaki itu meneleponku. Dalam keadaan masih sangat mengantuk, aku mendengarkan suaranya dari seberang sana.

“Aku dibangunkan suamiku. Dia menyuruhkan merebus telur ayam sejumlah anggota keluarga, kemudian memakannya di depan tungku menghadap selatan. Aku katakan kalau di rumah tidak ada tungku, katanya tidak masalah, diganti kompor saja. Dan, harus dimakan sebelum subuh atau menjelang fajar. Katanya, ini untuk menangkal wabah menakutkan itu,” tuturnya dengan suara terkesan terburu-buru.

Aku tak mengerti apa yang dikatakanya. Aku melanjutkan perjalananku di alam mimpi. Aku baru sadar setelah keesokan harinya, seluruh penduduk kampung membincangkan tentang telur ayam sebelum fajar sebagai penangkal wabah. Kemudian telur ayam menjadi berita populer, bukan hanya tingkat kampung, tapi juga nasional. Hingga kita tahu bahwa itu bualan orang yang sedang menghibur diri dan banyak penduduk sudah terlanjur percaya dan melakukannya.


Cerpen ini sudah terbit di Media Indonesia 2020




Penulis Cerpen:



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.