Esai Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (22 Oktober 2026)
“Kesombongan adalah menentang kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim)
Al-Qur’an
mengisahkan dengan apik dua makhluk Allah Swt yang melakukan pelanggaran: Iblis
dan Adam. Namun, bagaimana keduanya menyikapi kesalahan sangatlah berbeda.
Bahkan, akhir kisah keduanya pun tidak sama. Tentu, kisah ini bukan sekadar
cerita masa lalu, melainkan cermin bagi kita yang juga tidak luput dari dosa.
Kita dihadapkan pada sebuah pilihan: mengikuti jalan Iblis atau menapaki jalan
Adam.
Ketika Adam
diciptakan, Iblis diperintahkan oleh Allah Swt untuk bersujud kepadanya. Namun,
Iblis menolak. Ketika Allah Swt mempertanyakan alasannya, Iblis menjawab bahwa
dirinya lebih baik daripada Adam. Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam
diciptakan dari tanah.
Iblis bukan hanya
menolak perintah Allah, tetapi juga menyertakan argumen untuk membenarkan
penolakannya. Ia menjadikan asal penciptaannya sebagai alasan lebih unggul. Api
dan tanah sebagai perbandingan yang sebenarnya sama-sama materialistis dan
tidak punya nilai di hadapan Tuhan.
Akibat
pembangkangannya, Iblis terusir dari rahmat Allah Swt. Namun, alih-alih
menyadari kesalahannya, ia justru semakin meneguhkan pembangkangannya. Dalam
QS. Al-Hijr: 39, Iblis berkata bahwa ia akan menjadikan perbuatan buruk atau
maksiat tampak indah bagi manusia dan berusaha menyesatkan mereka.
Iblis tidak berhenti
pada kesalahan yang telah dilakukannya. Ia justru bertekad menyeret makhluk
lain agar mengikuti jalan yang sama. Dosa yang semestinya menjadi alasan untuk
menyadari kekeliruan malah dijadikan titik awal untuk melanjutkan pembangkangan.
Adam pun pernah
melakukan pelanggaran. Ia dan istrinya memakan buah terlarang. Mereka kemudian diturunkan
dari surga dan menjalani kehidupan di bumi. Dalam kisah ini, kita melihat bahwa
Adam pun tidak terbebas dari konsekuensi perbuatannya. Meski godaan Iblis
menjadi bagian dari kisah pelanggaran itu, Adam tetap mengakui kesalahannya di
hadapan Allah.
Di sinilah perbedaan
penting antara Adam dan Iblis mulai terlihat. Ketika menyadari kesalahannya,
Adam tidak menyusun argumen atau alasan paling logis untuk membuktikan bahwa
dirinya lebih baik atau bahwa tindakannya dapat dibenarkan. Ia justru memohon
ampunan kepada Allah.
Dalam QS. Al-A‘raf:
23, Adam dan istrinya berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami
sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Adam mengakui
kesalahannya. Ia tidak menjadikan dirinya sebagai ukuran atau standar kebenaran,
tidak pula menuntut agar tindakannya dianggap benar. Ia menyadari bahwa dirinya
telah berbuat zalim terhadap diri sendiri dan membutuhkan ampunan serta rahmat
Allah Swt.
Kisah Iblis dan Adam
bukanlah sekadar kisah yang harus dibaca berulang kali atau dihafalkan
ayat-ayatnya. Kisah itu mengandung pelajaran yang semestinya hadir dalam
kehidupan kita sebagai pemahaman dan praktik. Salah satu pelajaran
terpentingnya adalah bagaimana seseorang menyikapi kesalahan: apakah ia
mempertahankan kesalahannya dengan pembenaran diri, atau mengakuinya dengan
kerendahan hati?
Iblis mengedepankan
dirinya sendiri. Ia merasa lebih baik daripada Adam dan menjadikan penilaiannya
sebagai dasar untuk menolak perintah Allah Swt. Ia tidak menempatkan dirinya
sebagai makhluk yang harus tunduk, melainkan sebagai pihak yang merasa berhak
menentukan apakah perintah itu layak ditaati atau tidak. Kesombongan telah
membuat dirinya menjadi ukuran kebenaran, bahkan ketika berhadapan dengan
perintah Tuhannya.
Sikap seperti ini
sesungguhnya tidak asing dalam kehidupan manusia. Kita mungkin tidak pernah
secara terang-terangan menolak perintah Allah Swt sebagaimana Iblis, tetapi
terkadang kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama, lalu
mencari berbagai alasan agar tindakan itu tampak benar? Ketika ditegur, kita
sibuk membela diri. Ketika dikritik, kita lebih dahulu mencari kelemahan orang
yang mengkritik daripada memeriksa kebenaran kritiknya. Ketika melakukan
kesalahan, kita menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan mereka yang
mengingatkan kita.
Kita tidak lagi
bertanya apakah tindakan kita benar, tetapi sibuk mencari alasan agar tindakan
itu dianggap benar.
Lebih jauh lagi,
Iblis bertekad membuat manusia memandang baik perbuatan buruk atau maksiat. Di
sinilah persoalannya menjadi lebih serius. Kesalahan tidak hanya dilakukan,
tetapi juga dapat dikemas sedemikian rupa sehingga tampak sebagai kebaikan.
Kepentingan pribadi dapat dibungkus dengan alasan kepentingan bersama.
Keserakahan dapat diberi nama perjuangan. Kesombongan dapat disamarkan sebagai
harga diri atau batasan. Bahkan, pembangkangan dapat dibela dengan argumen yang
terdengar masuk akal.
Tentu, tidak semua
pembelaan diri adalah kesombongan dan tidak setiap perbedaan pendapat merupakan
pembangkangan. Manusia tetap perlu berpikir kritis dan menimbang persoalan
dengan ilmu. Namun, kita patut waspada ketika alasan-alasan yang tampak baik
justru digunakan untuk melindungi kepentingan diri, menolak kebenaran, dan
menghindari tanggung jawab.
Di titik inilah kita
perlu berhati-hati. Jangan-jangan, yang membuat kita semakin jauh dari
kebenaran bukan semata-mata karena kita melakukan kesalahan, melainkan karena
kita terlalu sibuk membangun pembenaran atas kesalahan itu. Kita membuat diri
sendiri merasa benar, sampai-sampai tidak lagi menyisakan ruang untuk mengakui
bahwa kita mungkin keliru.
Jalan Adam
mengajarkan sikap yang berbeda. Ketika berbuat salah, Adam mengakui bahwa
dirinya telah menzalimi diri sendiri. Ia tidak menjadikan kesalahan sebagai
kebenaran. Ia tidak membiarkan rasa malu atau keinginan mempertahankan diri
menghalanginya untuk memohon ampunan. Ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan
rahmat Allah Swt.
Pengakuan itu memang
tidak serta-merta menghapus konsekuensi perbuatannya. Namun, Adam menunjukkan
bahwa kesalahan tidak harus diikuti oleh pembangkangan yang berkepanjangan.
Seseorang dapat jatuh dalam dosa, tetapi ia masih dapat memilih untuk bertobat,
memperbaiki diri, dan kembali kepada Allah Swt.
Karena itu,
persoalannya bukan semata-mata apakah kita pernah berbuat dosa. Sebagai
manusia, kita memiliki kelemahan dan tidak luput dari kesalahan. Persoalan yang
lebih mendasar adalah apa yang kita lakukan setelah menyadari kesalahan
tersebut. Apakah kita semakin keras mempertahankan diri, atau justru berani
mengakui kekeliruan? Apakah kita terus mencari pembenaran, atau bersedia
memohon ampunan dan memperbaiki diri?
Kita tidak perlu
tergesa-gesa menunjuk orang lain sebagai representasi Iblis. Bisa jadi, dalam
diri kita sendiri terdapat kesombongan yang serupa: keengganan mengakui
kesalahan, kecenderungan merasa lebih baik, dan kebiasaan menjadikan
kepentingan atau diri sendiri sebagai ukuran kebenaran.
Demikian pula, jalan
Adam bukanlah jalan orang yang tidak pernah berbuat salah. Jalan Adam adalah
jalan orang yang bersedia mengakui kesalahan dan tidak menjadikannya sebagai
alasan untuk terus menjauh dari Allah Swt.
Pada akhirnya, kita
memang tidak selalu dapat menghindari kesalahan. Namun, kita masih memiliki
pilihan tentang bagaimana menyikapinya. Kita dapat mengikuti jalan Iblis dengan
membenarkan diri dan mempertahankan kesombongan, atau mengikuti jalan Adam dengan
mengakui kesalahan dan memohon rahmat Allah Swt.
Sebab, yang lebih
berbahaya daripada jatuh dalam dosa adalah kehilangan “kerendahan hati” untuk
mengakuinya. Dan yang lebih menyelamatkan daripada merasa diri selalu benar
adalah keberanian untuk mengakui kesalahan, bertobat, dan kembali kepada-Nya.
Taqobbalallah minna
wa minkum, anta maqsudi wa ridhaka mathlubi. Aamiin!
Kamar Utara, 22 Oktober
2026
Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.



0 Komentar