Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

IBLIS JUGA PUNYA ALASAN (Esai Edy Hermawan, S.Sos, Gr)

  Esai Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (27 Oktober 2026) 

“Aku lebih baik darinya, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.” (QS. Sad : 76)

Dikisahkan, Tuhan memanggil Iblis untuk menghadap, lalu memerintahkannya bersujud kepada Adam. Namun, Iblis menolak perintah itu. Ia beralasan bahwa dirinya lebih mulia dibanding Adam: Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam hanya diciptakan dari tanah. Tuhan pun merespons penolakan Iblis dengan mengutuknya sebagai makhluk terlaknat.

Dari kisah tersebut, kita memahami satu hal penting: Iblis tidak menolak perintah Tuhan secara asal-asalan. Ia memiliki alasan, sebuah argumentasi yang runtut secara logika. Namun, adanya alasan tidak serta-merta meniscayakan kebenaran. Punya alasan tidak sama dengan berdiri di atas kebenaran. Sebab, jika sekadar memiliki alasan sudah cukup untuk dianggap benar, tentu Iblis tidak akan dilaknat oleh Tuhan.

Lantas, di manakah letak kesalahan atau kecacatan alasan Iblis tersebut

Secara umum, kita dapat mengerti bahwa Iblis menjadikan dirinya sebagai pusat, sebuah sikap egosentris. Bagi Iblis, segala sesuatu baru pantas dilakukan ketika lolos dari standar dan kriteria dirinya sendiri, tak terkecuali perintah Tuhan. Artinya, Iblis telah menahbiskan dirinya sebagai standar kebenaran itu sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat sering mendengar orang menyampaikan berbagai alasan atas apa yang mereka lakukan. Bahkan, sebagian dari kita memakluminya begitu saja dengan berkata, “Biarkan saja, setiap orang kan memiliki alasannya masing-masing.”

Namun, memaklumi setiap tindakan hanya karena ada alasannya adalah sebuah jebakan berpikir yang sangat halus. Alasan sering kali hanyalah cara akal membungkus kepentingan atau keinginan ego agar terlihat wajar dan rasional. Ketika sebuah alasan lahir dari kenyamanan diri, gengsi, atau sekadar logika personal, pada hakikatnya kita sedang berjalan di tapak yang sama dengan Iblis: mengangkat diri sendiri menjadi hakim atas apa yang patut dan tidak patut.

Padahal, sebuah alasan tidak secara otomatis menyucikan dan membenarkan suatu tindakan. Alasan yang benar tidak cukup hanya bisa diterima oleh rasio manusia atau terasa memuaskan bagi perasaan kita. Alasan yang sah secara hakiki harus bertitik tolak dan bermuara pada Allah Swt, bukan pada diri sendiri.

Bertitik tolak pada Allah Swt berarti setiap tindakan diawali dari kesadaran penuh atas perintah, petunjuk, dan keridaan-Nya, bukan berangkat dari kehendak pribadi yang kemudian dicari-carikan dalil pembenarannya. Sementara bermuara pada Allah Swt, berarti tujuan akhir dari tindakan tersebut semata-mata adalah ketundukan dan penghambaan kepada-Nya, bukan demi kepuasan ego, pelampiasan emosi, apalagi sekadar pengakuan dari sesama.

Tanpa pijakan tersebut, sehebat dan serapi apa pun argumen yang kita bangun, ia hanyalah topeng bagi kesombongan yang terselubung. Itu hanya pembenaran, bukan kebenaran.

Maka, setiap kali kita menyusun alasan atas apa yang kita lakukan, patutlah kita bersikap jujur pada diri sendiri: apakah alasan ini lahir dari ketundukan kepada Allah Swt, atau sekadar cara kita membela diri agar tidak terlihat salah, atau sekadar cara untuk menyelamatkan cintra diri dan memuaskan diri? Sebab pada akhirnya, sekadar memiliki alasan tidak pernah cukup untuk membuat suatu perbuatan menjadi benar. Memiliki alasan tidak berarti memiliki kebenaran. Sebab, Iblis juga punya alasan.

Taqobbalallah minna wa minkum. Anta maksudi wa ridhaka mathlubi. Aamiin!




Penulis:



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.