Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

SOROGAN: JALAN SANTRI MENUJU GROWTH MINDSET (Esai Edy Hermawan, S.Sos, Gr)

Esai Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (20 Oktober 2026) 


“Memberi nasihat itu mudah, tapi menerima nasihat sulit. Karena, bagi pengikut hawa nafsu nasihat sangat pahit. Itu terjadi karena hal-hal yang dilarang agama dicintainya di dalam hati mereka.” Imam Al-Ghazali, Kitab Ayyuhal Walad.  

Pernahkah kita bertemu dengan seseorang atau murid yang setiap kali diminta mengerjakan tugas atau melakukan sesuatu berkata “saya tidak bisa”? Pernahkah kita bertemu dengan seorang murid yang selalu “takut salah” sehingga memilih pasif? Pernahkah kita bertemu dengan seorang murid yang mengabaikan, bahkan tertutup pada kritik dan defensif?

Kalau pernah, kita dapat menduga kuat bahwa murid itu memiliki pola berpikir tetap atau fixed mindset. Seseorang dengan pola pikir seperti ini sangat sulit untuk diajak maju berkembang dan tumbuh karena cenderung tertutup, tidak bersedia dikoreksi, tidak memiliki kepercayaan diri, dan yang paling parah tidak menempatkan kegagalan sebagai bagian dari proses bertumbuh.

Kondisi ini bertolak belakang dengan karakteristik murid yang memiliki pola pikir berkembang atau growth mindset. Mereka yang memiliki growth mindset umumnya memiliki beberapa ciri: 1) Memandang kegagalan sebagai peluang untuk belajar dan bertumbuh, bukan akhir dari segalanya; 2) Menyukai tantangan baru karena melihatnya sebagai jalan untuk meningkatkan kapasitas diri; 3) Tahan banting atau memiliki daya tahan lebih; 4) Memandang usaha keras sebagai kunci utama menuju keahlian, bukan sekadar bakat bawaan; dan 5) Terbuka terhadap masukan dan melihat kritik sebagai informasi berharga untuk memperbaiki diri.

Namun sebelum itu, pertanyaannya: apakah dan mengapa kita sangat membutuhkan pola pikir growth mindset, terutama untuk murid dan generasi muda hari ini?

Tentu saja, kita membutuhkan pola pikir growth mindset.  Di era yang terus berubah dengan cepat seperti sekarang, kemampuan beradaptasi adalah kunci kelangsungan hidup. Tanpa pola pikir growth mindset, seseorang akan mudah tergilas oleh perubahan karena ia merasa kemampuannya sudah mentok di satu titik atau sudah berpikir dan merasa dirinya berada di puncak.

Kita membutuhkan growth mindset karena pola pikir ini membebaskan kita dari belenggu rasa takut salah, memicu kreativitas, dan membangun ketahanan mental yang kokoh. Terutama, ini mampu membentuk kepribadian yang terbuka terhadap koreksi dan kritik sehingga memungkinkan untuk bergerak dan tumbuh dinamis progresif.

Pola pikir bertumbuh ini juga mengubah rasa tidak aman menjadi rasa ingin tahu, sehingga proses belajar tidak lagi menjadi beban yang menakutkan, melainkan sebuah petualangan yang menyenangkan. Misalnya, seorang murid yang tertanam pola pikir growth mindset ini tidak akan mudah menyerah ketika dihantam kesulitan. Ia akan terus berusaha keras dengan cara mengevaluasi segala hal yang terkait pada dirinya.

Sebenarnya, ada metode klasik pesantren yang sangat kompatibel dengan urgensi growth mindset ini. Metode ini mungkin dipandang kuno, padahal cukup efektif untuk menumbuhkan dan membangun pola pikir berkembang. Metode ini disebut dengan metode “sorogan”.

Secara sederhana, langkah-langkah metode sorogan adalah santri diharuskan belajar mandiri dan bersama santri yang lain, dalam hal ini membaca dan memaknai kitab, sebelum menyetorkan hasilnya kepada ustadz atau kiai. Dalam metode ini, santri akan mendapatkan koreksi langsung dari ustadznya terkait hasil belajarnya sehingga santri harus terbuka dan siap dikoreksi meski di hadapan santri yang lain. Dengan demikian, sorogan akan menumbuhkan dan membangun beberapa hal penting pada diri santri atau murid yang sesuai dengan tujuan growth mindset.

Pertama, melatih kemandirian belajar dan daya tahan. Sebelum berhadapan langsung dengan ustadz, santri dituntut untuk mengulik isi kitab secara mandiri maupun berdiskusi dengan sesama temannya. Proses memahami teks gundul ini secara tidak langsung memaksa mereka bersahabat dengan kesulitan. Ketika menemukan kalimat yang rumit, mereka tidak bisa sekadar angkat tangan dan berpasrah pada kata "tidak bisa". Mereka akan memutar otak, membuka kamus, atau bertanya. Di sinilah mental tahan banting itu ditempa sejak dini melalui proses yang gigih, bukan hasil instan.

Kedua, menormalkan kesalahan sebagai ruang belajar. Ketakutan akan berbuat salah yang sering kali membelenggu anak dengan pola pikir fixed mindset perlahan terkikis dalam majelis sorogan. Saat menyetor bacaan, melakukan kesalahan atau keliru memahami maksud teks adalah hal yang lumrah, bahkan sebuah keniscayaan proses. Ustadz akan langsung membetulkan di tempat. Proses koreksi yang terjadi berulang-ulang ini mendidik alam bawah sadar santri bahwa salah itu bukan bukti kebodohan, melainkan bagian alami yang harus dilewati menuju pemahaman yang benar.

Ketiga, meruntuhkan tembok defensif terhadap kritik. Salah satu penyakit utama fixed mindset adalah sikap antipati terhadap masukan. Dalam sorogan, santri dilatih untuk menundukkan ego atau keangkuhannya di hadapan gurunya, bahkan terkadang disaksikan oleh santri lain. Mereka harus berlapang dada menerima interupsi dan koreksi. Pengalaman ini mendidik mereka untuk memisahkan antara “kritik terhadap kemampuan saat ini” dengan “harga diri mereka sebagai individu”. Alhasil, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah tersinggung, terbuka pada evaluasi, dan melihat kritik sebagai vitamin untuk pertumbuhan mereka.

Akhirnya, growth minset menggeser orientasi belajar dari sekadar nilai menjadi pemahaman mendalam. Sorogan tidak mengenal angka di atas kertas atau ujian pilihan ganda yang bisa diakali dengan spekulasi. Validasi kelulusan seorang santri atau murid dinilai langsung dari bagaimana ia mampu mempertanggungjawabkan pemahamannya secara lisan dan kontekstual di hadapan sang guru.

Melalui metodologi klasik yang tampak sederhana ini, pesantren sebenarnya telah lama mempraktikkan apa yang hari ini dielu-elukan dunia modern sebagai growth mindset. Sorogan membuktikan bahwa nilai-nilai keluhuran tradisional tidak pernah usang dan lapuk, melainkan tetap mampu menjawab tantangan krisis mentalitas generasi masa kini.

Lalu, sekarang yang tersisa hanya satu: maukah kita mempraktikkannya dan terus memodifikasinya agar sesuai dengan tuntutan kondisi murid hari ini? Kalau mau, mari kita saling dukung untuk mengaplikasikannya.

Selamat Hari Santri!

Taqobbalallah minna wa minkum. Anta maksudi wa ridaka mathlubi. Aamiin!

 

Kamar Tengah, 17 Oktober 2027





Penulis:



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.