Esai Edy Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (11 Oktober 2026)
“Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah kepuasaan
terhadap diri sendiri. Sebaliknya, pangkal segala ketaatan, kewaspadaan, dan
kesucian jiwa adalah ketidakpuasaan pada diri sendiri.” Ibn Athaillah dalam
Al-Hikam.
Menikah tidak pernah menjadi
urusan yang sepenuhnya mudah bagi sebagian orang, meski mungkin tampak biasa
saja bagi sebagian yang lain. Bagi saya pribadi, hari-hari menjelang pernikahan
adalah masa ketika pikiran dan perasaan didera kecamuk yang luar biasa.
Bagaimana tidak? Saya merasa
jauh dari siap dalam banyak hal. Saya bingung ke mana biduk rumah tangga akan
dibawa, dan dengan cara apa saya harus menuntunnya nanti. Tragisnya, seluruh
kepanikan dan kegelisahan itu saya simpan rapat-rapat sendirian. Saya enggan
menceritakannya kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua.
Namun pada sore itu, saudara
almarhum bapak—sebut saja Paman— datang ke rumah. Setelah membicarakan
persiapan acara pernikahan, beliau begitu saja menyarankan saya untuk sowan
kepada seorang kiai.
“Sebaiknya kamu sowan ke Kiai.
Minta nasihat atau arahan tentang pernikahan, meski tentu kamu sudah punya
pemikiran sendiri. Saya tahu kamu pernah nyantri, kuliah juga,” ujar Paman.
Itu terdengar kasar, tidak
sopan, dan blak-blakan. Tapi jujur, saya tidak tersinggung dengan kalimat Paman
itu. Saya justru heran, bagaimana Paman bisa menangkap gelagat kegelisahan
saya, padahal saya tidak pernah bercerita. Dugaan saya, saran itu lahir dari
pengalaman pribadi beliau sendiri saat dahulu hendak menikah.
Di tengah ketidakpastian itu,
saya memang sudah memiliki jalan pikiran saya sendiri. Saya bahkan cukup yakin
bahwa jalan pikiran saya benar dan terbaik sehingga tak perlu dikonfirmasi
kepada orang lain. Namun setelah saya renungkan, saran Paman sangat bijaksana.
Saya pun mengamini untuk sowan. Pikir saya, ini adalah momentum terbaik untuk
menumpahkan seluruh beban pikiran kepada orang yang tepat sehingga saya tahu di
mana letak cacat pikiran dan jalan pilihan saya.
Esok harinya, saya benar-benar
menemui kiai itu. Saya dipersilakan duduk di musholla tepat di depan rumah
beliau. Di sana, saya tuturkan maksud kedatangan saya, lengkap dengan seluruh
kecamuk batin dan detail ketakutan yang selama ini saya sembunyikan.
Lalu, dengan suara khasnya
yang tenang, beliau memberikan jawaban singkat:
"Kamu ini kan mondok,
santri. Apa yang membuat kamu gelisah itu sebenarnya sudah ada dalam
kitab-kitab yang kamu kaji di pondok."
Jawaban itu pendek, tetapi
dampaknya menghujam sangat dalam. Saya seperti baru saja dibangunkan dari tidur
panjang. Saya tersadar bahwa kepanikan telah membuat saya melupakan bekal
keilmuan yang selama ini saya pelajari sebagai santri. Harusnya, saya sebagai
santri mengerti bagaimana cara santri harus berpikir, merasa, bersikap,
bertutur, bahkan mengambil keputusan.
Apa yang disampaikan Kiai
bukan sekadar solusi teknis urusan rumah tangga, melainkan sebuah teguran
tentang refleks mental seorang santri saat berhadapan dengan masalah,
kepanikan, dan ketidakpastian. Kalimat beliau menggugah kembali cara berpikir
kesantrian saya: tentang epistemologi santri yang sebenarnya.
Pertanyaannya sederhana namun
mendasar: ke mana dan bagaimana seharusnya seorang santri "pulang"
ketika hati dan pikirannya dilanda kegelisahan?
Jawabannya: ketika ditekan
oleh kenyataan hidup dan ketakutan akan masa depan, refleks utama seorang
santri bukanlah mengurung diri dan diam dalam kepanikan, melainkan kembali (ruju')
kepada Al-Qur'an, Hadis, dan kitab-kitab turats yang pernah dikajinya.
Kitab-kitab itu bukanlah sekadar materi hafalan untuk mengejar kelulusan ujian pondok,
melainkan kompas penuntun hidup yang nyata.
Bahkan, santri tidak pantas
mengandalkan dirinya sendiri tanpa melakukan konfirmasi dan validasi terhadap nash
atau guru dan orang yang dipercaya. Alasannya sederhana, itu dilakukan sebagai
bentuk “tawadu’ intelektual” dan menghindari tipu muslihat (ghurur)
hawa nafsu.
Setelah menyerap nasihat dan
kisah-kisah dari Kiai, saya pamit pulang. Tiba di rumah, saya langsung
menghampiri rak kitab dan buku. Saya kumpulkan kembali kitab-kitab yang sempat
disebutkan oleh Kiai. Saya buka dan baca kembali lembar demi lembar, berpindah
dari satu kitab ke kitab lainnya.
Seketika itu, saya juga teringat
riwayat sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ketika diutus oleh
Rasulullah ke Yaman. Saat ditanya bagaimana ia akan menyelesaikan berbagai
perkara hidup, Mu’adz menjawab secara berurutan: berdasarkan Al-Qur'an,
Sunnah/Hadis, dan ijtihad (ijtihadu ra'yi).
Mengingat riwayat itu, saya
semakin sadar betapa seringnya kita sebagai santri terjebak dalam kesombongan
tersembunyi. Kita terlalu mengandalkan logika dan perasaan sendiri, tanpa mau
bekerja keras mengonfirmasikannya (tashdiq) kepada Al-Qur'an, Hadis,
ijtihad para ulama, serta arahan para guru. Kita merasa cukup dengan pemikiran
sendiri, menganggapnya benar, memikirkannya sendiri, lalu membenarkannya
sendiri. Itulah yang disebut kesombongan intelektual.
Padahal, bukan begitu cara
proses pengetahuan seorang santri bekerja. Santri sejati harus senantiasa
mendialogkan apa yang dihasilkan oleh pikiran dan perasaannya dengan nash, baik Al-Qur'an, Hadis, maupun
ijtihad ulama.
Dari peristiwa menjelang
pernikahan itu, saya memetik hikmah yang sangat besar. Menjadi santri bukan
sekadar soal simbol lahiriah, bukan cuma sarung dan kopiah, bukan sekadar mahir memimpin tahlilan,
menjadi imam shalat, atau piawai ceramah dengan deretan dalil. Kesantrian yang
hakiki adalah tentang bagaimana seorang santri mampu mendialogkan dinamika
hidupnya dengan nash, sehingga tidak menjadi santri abal-abal yang
terjebak pada “takabbur intelektual”.
Selamat menuju Hari Santri, 22
Oktober 2026.
Taqabbalallahu minna wa
minkum. Anta maqshudi wa ridhaka mathlubi. Aamiin!
Ruang tamu, 02 Oktober 2026



0 Komentar