Selamat Datang di Website Resmi Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid - "Nurul Jadid untuk Indonesia"

MENJELANG SENJA (Cerpen Edy Hermawan, S.Sos, Gr)

Cerpen Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (01 November 2026) 


            Tak ada kebahagian lagi, kecuali toko kelontong itu penuh sesak dengan barang dagangan sehingga pelanggan tidak kembali dengan tangan hampa. Meski, barang dagangan itu diisi tidak dari lembaran rupiah di kantongnya sendiri, melainkan dari agen atau rupiah pinjaman dari kreditur. Setidaknya, itu yang terjadi pada Bu Summi, salah seorang pedagang toko kelontong di Pasar Candi.

Pada bulan penuh rahmat ini, adalah surga bagi para pedagang di pasar, termasuk Bu Summi. Stok barang harus ditambah karena permintaan akan meningkat dari hari-hari biasanya. Dompet Bu Summi juga harus diganti dengan yang lebih besar.

Pedagang seperti Bu Summi tentu sudah memperhitungkan siklus musim seperti ini, apalagi dia sudah berdagang di Pasar Candi itu lebih dari tiga puluh tahun. Dia sangat paham, kapan toko kelontong berukuran empat kali lima meter itu harus disesaki barang dan kapan harus dibuat lebih legang.

Bahkan, Bu Summi juga sudah tahu detail barang dagangan apa yang harus disediakan lebih banyak dibandingkan barang yang lainnya, khususnya sembako. Bu Summi sudah menerka dan mencatat jumlah barang yang harus disediakan per hari, per minggu, dan per bulan. Kalaupun kurang atau lebih, selisihnya tidak akan terlalu jauh.

Bu Summi sadar sesadar-sadarnya, bahwa dia tidak boleh melewatkan kesampatan ini. Dia akan sediakan barang sebanyak kebutuhan pasar. Dia juga sudah memikirkan apa dan bagaimana harus melakukannya.

Apalagi, bila Bu Summi mengingat suaminya yang terbaring lemah sejak enam tahun yang lalu, karena menderita radang paru-paru. Sekarang lelaki itu hanya tinggal tulang berbalut kulit. Serupa kerangka tanpa daging. Sudah tidak mungkin beraktivitas berat. Lelaki yang sangat dicintainya itu sangat membutuhkan pengobatan dan tentu tidak dengan biaya yang sedikit.

Belum lagi, anak gadisnya yang masih menempuh kuliah di luar kota. Bu Summi tidak ingin pendidikan anak bungsunya itu tersendat atau bahkan putus hanya karena masalah ekonomi. Bu Summi ingin anaknya hidup lebih baik dari dirinya.

Memang, Bu Summi sudah berhasil menyelesaikan pendidikan anak pertamanya hingga perguruang tinggi ternama. Sekarang dia sudah menikah dan nasibnya belum seberuntung yang diharapkan. Selain menjadi tenaga honorer di salah satu sekolah, anak sulungnya itu juga berjualan di Pasar Candi dengan modal seadanya.

Bu Summi sering tampak termangu-mangu bila mengingat semua itu. Tapi, dia tidak patah semangat. Justru, semangatnya terus membara. Dia berbesar hati menerima semuanya. Dia juga yakin apa yang diusahakannya tidak akan sia-sia.

“Bu, apa Ibu sakit?” tegur seorang pelanggan yang sempat memergoki Bu Summi tercenung dengan tatapan kosong.

“Tidak. Tidak apa-apa,” jawabnya gugup sembari mencari-cari sesuatu yang tak jelas. Salah tingkah.


***

 

Tiga bulan yang lalu, Bu Summi mendaftarkan kembali sebagai pengguna jasa sebuah lembaga keuangan. Dia mengajukan pinjaman dengan jumlah yang cukup besar, tentu juga cicilan yang cukup besar. Dia harus memenuhi permintaan pasar. Tentu Bu Summi juga sudah mempertimbangkan langkah ini dengan matang.

Apa yang dilakukan Bu Summi, menggunakan jasa lembaga keungan, bukan baru pertama kalinya. Bu Summi sudah melakukannya berkali-kali. Lebih kurang, itu sudah yang ketujuh kalinya.

Semula, Bu Summi enggan menggunakan jasa itu, tapi setelah persediaan barang di tokonya seringkali kurang untuk memenuhi permintaan pasar, dia berani mengambil langkah itu. Hingga akhirnya, sebenarnya barang dagangan di toko kelontong itu kurang dari dua puluh persen milik Bu Summi sendiri.

Tak perlu menunggu lama, belum genap seminggu, pengajuan Bu Summi sudah selesai diproses. Rupiah juga sudah di tangan. Sebagian rupiah itu digunakan untuk belanja saat itu, dan sisanya digunakan untuk menambah persediaan barang menghadapi puasa dan lebaran.

Bu Summi juga mendapat kepercayaan dari beberapa agen. Cukup mengatakan apa yang dibutuhkan, maka barang akan datang menyesaki toko kelontong Bu Summi. Soal bayar, belakangan. Ketika barang sudah laku maka baru dibayar. Bu Summi memutar barang itu dua kali dalam sepekan, Selasa dan Jumat.

Jadi, sisa dari dua puluh persen barang dagangan Bu Summi, sebenarnya milik kreditur dan para agen. Bu Summi hanya menjualkan dan mengambil sedikit keuntungan sebagai ganti lelah. Pedangang pasar serupa Bu Summi sangat banyak. Bu Summi bukan satu-satunya. Mereka bukan pedagang seperti yang dikatakan banyak orang, pedagang itu pekerja yang merdeka karena bekerja pada dirinya sendiri. Tidak. Itu tidak benar bagi pedagang seperti Bu Summi. Mereka tidak jauh beda dengan buruh pabrik atau kuli.

“Pak, insyaallah persediaan untuk menghadapi bulan Puasa ini sudah siap,” kata Bu Summi kepada suaminya.

“Syukurlah, Bu. Semestinya, bukan ibu yang melakukan itu,” balas suaminya sembari membenarkan posisi kepalanya, mengadu pandang dengan Bu Summi.

“Sudahlah, Pak. Bapak kan sedang sakit. Bantu ibu dengan doa,” kata Bu Summi menenangkan suaminya yang selalu merasa bersalah, sebab membiarkan Bu Summi menjadi tulang punggung keluarga.

Sebenarnya, tak tebersit sedikit pun perasaan kecewa pada diri Bu Summi atas keadaan suaminya. Apalagi, itu bukan karena malas, melainkan memang benar-benar sakit. Bu Summi bahagia menjalani nasibnya sebagai tulang punggung keluarga. Tapi persoalannya, suaminya tidak henti-henti selalu meminta maaf kepada Bu Summi karena Bu Summi harus berjuang sendirian.

“Setelah lebaran, kita kan pergi ke dokter spesialis untuk mengobati penyakit Bapak. Dan, kita akan beli obat-obat yang berkualitas agar Bapak cepat sembuh,” tutur Bu Summi sambil memijat-mijat lelaki yang rebah di hadapannya.

Lelaki itu hanya diam. Bu Sumi tahu bahwa di sudut mata lelaki itu ada air yang memaksa untuk mengalir.

“Kita juga akan belikan anak bungsu kita laptop, agar dia tidak selalu pinjam atau rental ketika ada tugas kuliah,” tambah Bu Sumi.

“Bu, dahulukan keperluan anak kita. Bapak, insyaallah, baik-baik saja, Bu,” tutur lelaki itu sambil menggenggam erat tangan Bu Summi.

“Kesehatan Bapak sama pentingnya dengan kebutuhan anak bungsu kita. Jadi, kita akan selesaikan sekaligus,” ucap Bu Summi meyakinkan.

***

 

“Apa masih ada yang kurang, Bu?” tanya seorang agen barang kepada Bu Summi.

“Tunggu dulu. Saya cek. Gula, kopi, minyak, sabun, rempah-rempah, ... Sudah cukup,” kata Bu Summi kepada agen itu.

Hari itu Bu Summi menarik semua tabungannya untuk menjamin ketersediaan barang dagangannya. Dia tidak mau pelanggannya pulang dengan tangan hampa. Dia membelanjakan semua uang yang ada, hanya menyisakan beberapa lembar rupiah berwarna merah untuk kebutuhan di rumah.

Menurut taksiran Bu Summi, barang dagangan itu tidak cukup untuk diputar dua kali dalam sepekan. Kalau benar-benar ingin dipenuhi, dia harus menambah barang dangan seperempatnya lagi. Tapi itu juga tidak mungkin. Uangnya juga sudah habis dibelajakan, sedangkan beberapa agen sudah menyediakan dengan batas kemampuannya. Tidak sesuai harapan.

 Bu Summi juga tidak mungkin menambah barang dagangan karena ruang tokonya sudah cukup sesak. Sebab itu, dia harus rela lebih sering atau segera belanja ketika barang sudah hampir habis. Memang, kalau sudah hampir puasa, Bu Summi bisa belanja barang dagangan setiap hari.

“Kalau begitu, barang ini akan sampai di toko Ibu besok pagi,” kata agen itu kepada Bu Summi.

“Ya, tidak apa-apa. Yang penting pagi, jangan terlalu siang.”


***

 

Menjelang senja, lelaki itu menyambut Bu Summi dengan air mata, kemudian lemas dan roboh. Seandainya saja lelaki itu tidak bersandar kepada tiang penyangga atap di teras rumahnya, dan beberapa orang segera memeganginya, lelaki itu akan jatuh tersungkur ke lantai.

Lelaki itu seperti mengerti mata sembab, wajah pucat kusam, dan langkah lemah istrinya. Dia tak sanggup tegak meski sudah bersandar pada tiang beton. Rapuh dan roboh.

Tak jauh dari hadapan lelaki itu, perempuan yang sangat mencintainya, sebentar kemudian juga lemas, lemah, lalu tidak sadarkan diri. Beberapa tetangga yang sudah sejak tadi duduk di teras rumahnya, di undakan, dan halaman, gegas membantu menyanggah dan menggotong perempuan itu, Bu Summi. Istri lelaki setengah sekarat itu juga tidak sadarkan diri.

Bayangan tentang suaminya yang akan segera sembuh dan anak bungsunya bahagia mendekap laptop, hangus seketika. Menjadi debu dan arang. Membumbung ke langit serupa asap. Pekat dan gelap.

Toko Bu Summi, satu-satunya sumber pendapatan keluarganya, terbakar habis. Barang dagangan yang baru diantarkan tadi pagi juga hagus terbakar menjadi arang. Tokonya rata dengan tanah. Kini, yang tersisa hanya utang dan utang. Serta, sepetak tanah yang di atasnya berdiri bangunan di mana sekarang Bu Summi dan suaminya sedang terbaring tak sadarkan diri.


Kamar Tengah, 29 Oktober 2026




Penulis Cerpen:



Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.