Esai Hermawan, S.Sos. Gr, Guru SMA Nurul Jadid (06 November 2026)
“Seorang mukmin sejati bukanlah dia yang hanya asyik
bertasbih di pojok masjid, sementara ketidakadilan merajalela di luar
dinding-dindingnya.”
Ali Syari’ati dalam Agama Versus Agama.
Ada satu peristiwa penting
pada masa kecil yang masih saya ingat dengan segar, yaitu ketika saya
terang-terangan dikatakan bahwa keimanan saya tidak sempurna. Alasannya, karena
saya tidak hafal aqoid lima puluh, lebih tepatnya kitab Aqidatul Awam.
Saat itu, saya benar-benar gundah. Bayangan yang muncul adalah bahwa saya akan
berada di dalam neraka karena keimanan merupakan pondasi dalam beragama.
Sejak itu, saya melakukan
banyak hal. Di antaranya, saya membeli beberapa kitab akidah seperti Aqidatul
Awam, Ummul Barohin, Khoridatul Bahiyah, serta buku-buku
akidah terjemahan, seperti Husunul Hamidiyah. Kitab-kitab dan buku-buku
itu saya baca dan pelajari secara otodidak, kecuali kitab yang terakhir. Saya
tidak terlalu memedulikan apakah saya mengerti atau tidak. Saya hanya terus
membaca dan mempelajarinya.
Singkat cerita, apa yang saya
lakukan diketahui oleh guru ngaji. Hal itu bermula ketika ada kajian kitab Khoridatul
Bahiyah karya Syekh Ahmad ad-Dardiri. Saat itu, saya mengajukan pertanyaan:
bagaimana surga dan neraka bisa kekal, padahal yang kekal hanya Allah Swt?
Lalu, bagaimana memahami tanggung jawab manusia di bawah ketentuan qada dan
qadar Allah Swt?
Pertanyaan-pertanyaan itu
tidak dijawab saat kajian kitab berlangsung. Namun, setelah kajian selesai,
saya dipanggil secara khusus. Beliau bertanya bagaimana saya sampai mengajukan
pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Saya pun menjelaskan bahwa saya membaca
beberapa kitab dan buku tentang tauhid atau akidah. Beliau kemudian memberikan
jawaban dan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan saya. Beliau juga meminjam
salah satu buku terjemahan tauhid yang saya miliki. Sayangnya, saya lupa
judulnya. Saya hanya ingat sampulnya berwarna merah. Saya membeli buku itu di toko
buku dekat Taman Adipura.
Namun, ada satu kalimat
menarik dari beliau yang terus saya simpan dan tak kunjung selesai saya pahami.
Beliau berkata, "Kalau tauhid kita benar, maka benar semuanya. Kalau
tauhid kita salah, maka salah semuanya." Jujur, saya tidak memahami
maksud kalimat itu, meskipun saat itu beliau menjelaskannya dengan sangat
panjang lebar. Sejak itu, setiap kali membaca kitab tauhid atau akidah, atau
mendengar kata tauhid, saya selalu teringat kalimat tersebut.
Saat nyantri, saya kembali
mempelajari kitab-kitab tauhid itu dan membeli beberapa kitab lainnya, seperti Tijanuddarori,
Qotrul Ghaits, Husunul Hamidiyah, Nuruddzalam, Kifayatul
Awam, dan Ummul Barohin karya Imam Sanusi. Kitab-kitab itu memang
masih berada pada level dasar, bahkan mungkin menengah. Namun, saya berharap
dapat menemukan jawaban atas berbagai kegundahan saya, termasuk memahami
kalimat yang pernah disampaikan guru ngaji saya tersebut.
Hasilnya, selama nyantri, saya
belum menemukan apa yang saya cari. Bahkan, saya pernah berdiskusi satu malam
penuh dengan seorang teman tentang tauhid ini. Saya masih merasa bahwa tauhid
hanya berputar-putar di langit. Ia sangat teoritis, tidak berpijak di bumi, dan
sama sekali tidak praktis. Padahal, kita hidup dan menjalani kehidupan nyata di
muka bumi.
Ketika melanjutkan studi
strata satu di Yogyakarta, saya bertemu dengan seorang teman dari Ternate,
Maluku Utara. Pertemuan itu membawa saya pada kesadaran lain tentang tauhid.
Kegundahan saya tentang tauhid yang melangit seolah mendapatkan validasi. Teman
saya itu menyebutnya sebagai "tauhid yang mandul".
Dia merekomendasikan beberapa
bacaan. Sebagai pondasi awal, dia menyarankan Falsafatuna agar saya
tidak terjebak dalam materialisme dan positivisme yang begitu kuat menguasai
dan mendominasi ilmu-ilmu sosial. Dia memahami bahwa saya berkonsentrasi pada disiplin
Sosiologi.
Daftar bacaan lain yang juga
disarankan adalah karya-karya Ali Syari'ati yang membahas tauhid sebagai titik
tolak perubahan sosial. Bahkan, tauhid menjadi bagian penting dalam menentukan
bagaimana masyarakat harus ditata. Dengan kata lain, tauhid tidak dipandang
sekadar sebagai kemewahan intelektual pribadi yang tidak berdampak pada praksis
perubahan sosial. Tauhid harus membumi dan melahirkan perubahan sosial yang berkeadilan.
Rekomendasi lainnya, seperti karya-karya Mulla Sadra dan Murtadha Muthahhari.
Pada titik ini, saya mulai
memahami bahwa tauhid yang mandul adalah tauhid yang hanya hidup dalam diri
pribadi-pribadi muslim, tetapi tidak membawa kehidupan atau menghidupi orang
lain. Tauhid berhenti sebagai keyakinan dan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi
tidak menjelma menjadi sikap, tindakan, dan cara manusia memperlakukan
sesamanya.
Saya pun sampai pada pemahaman
bahwa ketika Allah Swt adalah Tuhan dan saya adalah hamba, maka saya tidak
boleh menghambakan diri kepada selain-Nya: kepada penguasa, kekuatan ekonomi,
termasuk kepada diri sendiri. Bahkan, saya tidak dibenarkan memperhambakan
orang lain kepada diri saya, termasuk melalui pengetahuan yang saya miliki.
Ketika saya menyadari bahwa
Allah Swt Maha Benar, maka saya tidak boleh menutup diri dari koreksi dan
menjadi antikritik. Bahkan, saya tidak pantas membangun jarak dan tembok agar
orang lain merasa segan untuk mengoreksi dan mengkritik saya. Sebab, saya bukanlah
Yang Maha Benar. Andai saya membangun sebuah lembaga, maka lembaga itu harus
menyediakan ruang koreksi yang memadai. Mengapa? Karena saya tidak Maha Benar.
Mungkin, sekarang saya tidak
lagi terlalu memikirkan tauhid dalam kaitannya dengan neraka dan surga. Saya
juga tidak sepenuhnya memahami kalimat guru ngaji saya bahwa apabila tauhid
kita benar, maka benar semuanya, begitu pula sebaliknya. Namun, satu hal yang
semakin saya sadari adalah bahwa tauhid tidak boleh hanya melangit dan tidak
boleh mandul. Tauhid harus mampu mewujud menjadi gerak praksis yang konkret dan
berdampak nyata bagi kehidupan.
Sebab, jika tauhid hanya
membuat kita pandai berbicara tentang Allah Swt, tetapi tidak mengubah cara
kita memperlakukan manusia, menata kehidupan, dan mengubah kenyataan yang tidak
adil, jangan-jangan tauhid kita masih mandul. Tauhid kita baru pada level tasdik
bil qolbi atau bil lisan, belum bil arkan.
Tauhid tidak cukup hanya
membuat kita mengakui bahwa Allah Swt adalah Tuhan, tapi harus membuat kita
berhenti menjadi Tuhan bagi manusia yang lain, termasuk Tuhan bagi diri kita
sendiri. Tauhid harus mewujud pada bagaimana kekuasaan dijalankan, lembaga
dikelola, pengetahuan diproduksi, dan hubungan antara manusia dibangun. Ini
adalah tantangan kita agar tauhid tidak hanya berputar-putar di langit dan
sekadar berupa kesadaran belaka.
Taqobbalallah minna wa minkum.
Anta maksudi wa ridhaka mathlubi. Aamiin!
Kamar Tengah, 06 November 2026
Tulisan pada website ini merupakan bagian dari proses pendidikan peserta didik di Nurul Jadid. Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan maka pengelola website ini dapat menerima pengaduan dan mencabut penayangan tulisan tersebut.



0 Komentar